Sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah maupun mitra pengepul. Sampah organik diarahkan untuk mendapatkan pengolahan tersendiri, sedangkan residu menjadi bagian yang ditangani menggunakan teknologi pengolahan akhir.
Ketua Tim PMM, Fitra Mardiana mengatakan, pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
“Program ini kami arahkan tidak sekadar untuk mengurangi timbulan sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan yang lebih efektif dan aman melalui pendekatan ekonomi sirkular. Sampah yang masih memiliki nilai dipilah dan dimanfaatkan kembali, sedangkan residu yang tidak dapat dimanfaatkan ditangani dengan teknologi pengolahan yang sesuai,” ujar Fitra.
Konsep ekonomi sirkular tersebut menempatkan sampah bernilai agar tetap berada dalam siklus pemanfaatan selama mungkin sebelum benar-benar menjadi residu.
BUMDes dan PKK Didorong Jadi Motor Perubahan
Penguatan kelembagaan juga menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah di Desa Pengalangan.
BUMDes Pengalangan Sejahtera yang selama ini menangani retribusi dan pengangkutan sampah dapat memperluas perannya. Pengembangan tersebut antara lain melalui penyusunan standar operasional prosedur, penataan rute dan jadwal pengangkutan, pencatatan volume sampah, hingga membangun kemitraan dengan pengepul atau offtaker.
Di sisi lain, PKK dinilai memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat di tingkat rumah tangga.
Kader PKK dan Dasawisma dapat dilibatkan dalam edukasi pemilahan sampah, monitoring partisipasi warga, pencatatan, hingga mendukung kegiatan bank sampah.
Saat ini, dari enam dukuh yang ada di Desa Pengalangan, baru satu dukuh yang telah memiliki bank sampah. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan masih terbukanya peluang untuk memperluas budaya pemilahan sampah di masyarakat.
Incinerator Disiapkan untuk Sampah Residu
Selain memperkuat pemilahan dan bank sampah, teknologi juga disiapkan untuk menangani residu yang sudah tidak memiliki nilai guna.
Salah satu teknologi yang dirancang adalah incinerator tipe self-burning. Teknologi tersebut tidak ditempatkan sebagai pengganti pemilahan, tetapi menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah secara terpadu.
Anggota tim, Suprayoga bersama tim turut mendorong penguatan sistem pengelolaan agar teknologi yang digunakan tetap berjalan seiring dengan perubahan perilaku masyarakat.
Dalam penerapannya, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi diupayakan tidak masuk ke proses pembakaran. Pengoperasian incinerator juga harus mengikuti standar operasional dan keselamatan kerja, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, prosedur pembakaran, penanganan abu, hingga perawatan peralatan.
Dosen pendamping pembuatan incinerator, M. Hasan Abdullah menjelaskan, teknologi yang dirancang menggunakan sistem self-burning.
“Incinerator ini menerapkan sistem self-burning, sehingga setelah kondisi pembakaran tercapai prosesnya dirancang dapat berlangsung tanpa suplai bahan bakar tambahan secara terus-menerus. Gas hasil pembakaran kemudian melewati tiga tahap emission treatment, yaitu quencher, wet scrubber, dan activated carbon bed, sebelum dilepaskan melalui cerobong. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperkuat pengendalian emisi,” jelas Hasan.
Rancangan tersebut juga memasukkan pengendalian gas buang melalui wet scrubber dan activated carbon bed. Sementara abu hasil pembakaran diarahkan untuk dikaji lebih lanjut kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan campuran produk konstruksi, seperti paving block atau batako.
Namun, pemanfaatan abu tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Pengujian kualitas dan aspek lingkungan tetap diperlukan untuk memastikan keamanan sebelum digunakan lebih luas.
Targetnya Bukan Sekadar Mengurangi Sampah
Sistem pengelolaan terpadu yang dirancang di Desa Pengalangan diharapkan mampu mengubah pola lama “kumpul–angkut–buang” menjadi “pilah–kumpul–olah–manfaatkan–kelola residu.”
Perubahan tersebut bukan hanya berpotensi mengurangi beban sampah yang masuk ke TKD, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui bank sampah, kerja sama material daur ulang, serta pemanfaatan material hasil pengolahan.
Kepala Desa Pengalangan, Akhyar Abdul Muthalib, S.Pd, mengatakan perubahan sistem diperlukan agar persoalan sampah tidak terus menjadi beban desa.
“Selama ini pengelolaan sampah masih didominasi pola angkut dan buang sehingga timbulan sampah terus menjadi persoalan bagi desa. Melalui program ini, kami berharap pola tersebut dapat berubah, dimulai dari pemilahan di sumber. Sampah yang masih bernilai dapat dimanfaatkan, sementara residunya diangkut untuk diproses melalui pembakaran yang terkendali dan aman bagi lingkungan,” kata Akhyar.
Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan sampah di Desa Pengalangan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan incinerator atau fasilitas penampungan. Partisipasi warga, penguatan kelembagaan, tata kelola pengangkutan, keberadaan bank sampah, serta penggunaan teknologi yang tepat menjadi satu kesatuan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong Desa Pengalangan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri sekaligus membuka peluang ekonomi dari material yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
