Hadapi Kemarau, Agrowisata Gresik Terapkan Irigasi Tetes Modern untuk Belimbing dan Jambu

Arif Ardliyanto
Agrowisata Desa Pangalangan Gresik menerapkan irigasi tetes, TOGA, dan pengolahan limbah untuk menghemat air dan meningkatkan produktivitas. (Foto iNewsSurabaya.id/Arif).

GRESIK, iNewsSurabaya.id Pengelolaan agrowisata di Desa Pangalangan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, mulai beradaptasi dengan teknologi. Sistem irigasi tetes diterapkan untuk membantu menjaga produktivitas tanaman buah sekaligus menghemat penggunaan air saat musim kemarau.

Teknologi tersebut diterapkan Universitas Wijaya Putra (UWP) melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Hibah DRTPM Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Program ini menyasar BUMDes Pangalangan Sejahtera yang mengelola kawasan agrowisata di Desa Pangalangan. Sejumlah inovasi diperkenalkan, mulai dari irigasi tetes untuk tanaman belimbing dan jambu, diversifikasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA), hingga pengolahan limbah kebun menjadi kompos.


Agrowisata Desa Pangalangan Gresik menerapkan irigasi tetes, TOGA, dan pengolahan limbah untuk menghemat air dan meningkatkan produktivitas. (Foto iNewsSurabaya.id/Arif).

Ketua Tim PKM UWP, Muhammad Harist Murdani, S.Kom., M.Sc., mengatakan kawasan agrowisata BUMDes Pangalangan Sejahtera dikembangkan tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga kawasan edukasi dan fresh market.

“Kawasan agrowisata BUMDes Pangalangan sendiri dikembangkan sebagai kawasan wisata edukasi dan fresh market dengan komoditas utama petik buah belimbing dan jambu,” kata Harist.

Salah satu persoalan yang selama ini dihadapi pengelola adalah penyiraman tanaman yang masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika suhu meningkat dan musim kemarau berlangsung.

Melalui sistem irigasi tetes, air dialirkan langsung menuju area tanaman dengan debit yang lebih terkontrol. Cara ini membuat pemberian air dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sekaligus mengurangi pemborosan.

Tim UWP yang terlibat dalam program tersebut terdiri dari Muhammad Harist Murdani, S.Kom., M.Sc. sebagai ketua tim, serta Dr. Ir. Faisol Humaidi, M.P. dan Mamik Usniah Sari, S.Kom., M.Kom. sebagai anggota. Dua mahasiswa, Desi Any Victoria Erlando dan Umi Fitriah, turut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Pengelola agrowisata juga merasakan manfaat penerapan teknologi tersebut, terutama ketika tanaman harus menghadapi cuaca panas.

Anas, salah satu pengelola agrowisata, mengatakan sistem irigasi tetes membantu mempertahankan kondisi tanaman selama kemarau.

“Sangat membantu. Ini membantu tanaman tetap segar di kemarau yang panas. Ini sangat efisien, termasuk untuk alat, bibit, terutama drip tetesnya. Kami sangat bersyukur,” ungkap Anas.

Program pemberdayaan tidak berhenti pada persoalan irigasi. Tim UWP juga mendorong pengelola memanfaatkan lahan-lahan sela di kawasan agrowisata.

Tanaman Obat Keluarga atau TOGA seperti telang, rosella, dan serai dikembangkan untuk menambah variasi tanaman sekaligus membuka potensi pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum optimal.

Di sisi lain, limbah organik dari aktivitas kebun juga tidak dibiarkan menjadi sampah. Daun, rumput, dan sisa tanaman dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos.

Proses tersebut didukung mesin pencacah limbah organik berukuran kecil sehingga bahan organik dapat lebih mudah diproses menjadi pupuk.

Ketua BUMDes Pangalangan Sejahtera, Dodik, menilai dukungan teknologi dan pendampingan tersebut memberikan manfaat bagi pengelolaan agrowisata.

“Bantuan ini sangat berguna untuk agro, sangat-sangat membantu dan bermanfaat. Semoga kerja sama seperti ini terus terjalin,” ujar Dodik.

Ditargetkan Hemat Air hingga 80 Persen

Program PKM UWP dirancang tidak sebatas memberikan peralatan kepada mitra. Pengelola juga mendapatkan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi.

Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang diperkenalkan dapat digunakan dalam jangka panjang dan mampu dikelola secara mandiri oleh BUMDes.

Dari penerapan teknologi tersebut, tim menargetkan efisiensi penggunaan air mencapai 75–80 persen. Sementara pengolahan limbah organik ditargetkan mampu memanfaatkan sekitar 50–75 kilogram limbah per bulan.

Dari sisi sumber daya manusia, sebanyak 70–80 persen pengelola ditargetkan mampu mengoperasikan sekaligus melakukan perawatan terhadap teknologi secara mandiri.

Penerapan teknologi tepat guna di kawasan agrowisata Desa Pangalangan diharapkan menjadi langkah untuk menggabungkan produktivitas pertanian dengan pengelolaan lingkungan.

Jika berjalan berkelanjutan, inovasi tersebut bukan hanya membantu tanaman belimbing dan jambu menghadapi musim kemarau. Pengelolaan limbah dan pemanfaatan lahan sela juga dapat memperkuat daya tarik agrowisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Pangalangan.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network