Berdasarkan survei Parameter Politik Indonesia yang dilakukan pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi, sebanyak 65,8 persen warga NU menyatakan setuju organisasi menjauh dari politik elektoral.
Sedangkan 76,1 persen responden berharap PBNU lebih fokus mengurus umat dan agama.
Dukungan Tuan Rumah Muktamar Mengarah ke Gus Kikin
Di tengah perubahan peta tersebut, dukungan terhadap Gus Kikin datang dari tuan rumah pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Ketua PCNU Kabupaten Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, menilai Gus Kikin memiliki sejumlah modal yang membuatnya layak memimpin PBNU.
Menurutnya, Gus Kikin memiliki hubungan keluarga dengan pendiri NU sekaligus merupakan sosok yang telah memiliki pengalaman dalam organisasi.
"Gus Kikin ini zuriah muassis, cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Darahnya sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga pengusaha, sudah mentas dengan dirinya, insyaallah enggak golek urip nang NU, bisa nguripi," ujarnya.
Fahmi juga menilai gaya kepemimpinan Gus Kikin selama memimpin PWNU Jawa Timur relatif tenang. Pengalaman di sejumlah struktur organisasi NU dinilai menjadi modal tambahan.
"Selama menjadi Ketua PWNU Jawa Timur, kepemimpinan beliau teduh dan adem. Beliau pernah menjadi salah satu ketua di PBNU, wakil ketua di PWNU, dan tidak pernah punya masalah dengan organisasi. PWNU Jawa Timur resmi mengusung beliau dengan amanah 45 PCNU se-Jawa Timur, maka PCNU Jombang sami'na wa atho'na, kami sepakat mengusung beliau," katanya.
Penilaian senada disampaikan Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir. Ia menggambarkan Gus Kikin sebagai figur yang mengutamakan ketenangan organisasi.
Gus Kikin disebut sebagai sosok yang "teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah."
Figur Pengusaha Kembali Muncul dalam Sejarah Perebutan Ketum PBNU
Menguatnya figur pengusaha dalam bursa Ketua Umum PBNU bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah NU.
Nama KH Hasan Gipo, seorang saudagar asal Surabaya, tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pertama. Jejak sejarah tersebut kembali relevan ketika bursa kepemimpinan NU saat ini menghadirkan sosok dengan latar belakang kewirausahaan.
Fahmi bahkan sebelumnya pernah menyampaikan bahwa Ketua Umum PBNU tidak harus berasal dari kalangan kiai. Pernyataan itu disampaikannya sejak April lalu dengan mengangkat kembali sosok Hasan Gipo sekaligus membuka peluang munculnya pemimpin NU dari kalangan pengusaha.
Gagasan tersebut kemudian menemukan relevansinya dengan visi ekonomi yang ditawarkan Gus Kikin.
Ia mendorong konsolidasi ekonomi warga NU, mulai dari kekuatan pasar nahdliyin hingga pemanfaatan ekonomi digital. Dalam gagasan tersebut, UMKM dipandang bukan semata sebagai kegiatan bisnis, melainkan bagian dari perjuangan ekonomi masyarakat.
Konsep itu juga menyentuh kebutuhan NU untuk melakukan inventarisasi dan optimalisasi aset serta memperkuat digitalisasi organisasi.
Gus Kikin: Jika Ditugaskan, Saya Siap
Gus Kikin sendiri menyatakan kesiapannya apabila mendapat amanah untuk memimpin PBNU.
"Ini amanah, bukan niat pribadi. Bila memang ditugaskan, insyaallah saya siap."
Dalam kesempatan lain, Gus Kikin juga menyampaikan sikap optimistis menghadapi dinamika Muktamar ke-35 NU.
"Saya selalu optimistis."
Namun, ia juga menyerukan agar seluruh proses pergantian kepemimpinan tidak memecah persaudaraan di tubuh NU.
Kini, keputusan akhir berada di tangan muktamirin dan para ulama yang nantinya tergabung dalam AHWA. Perubahan mekanisme pemilihan membuat pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU memasuki babak baru.
Bagi para peserta muktamar, dinamika perebutan kepemimpinan bukan sekadar soal siapa yang menang. Persatuan NU menjadi pertaruhan yang jauh lebih besar.
Sebagaimana pesan Gus Fahmi yang mengingat kembali dawuh Gus Sholah, jangan sampai air mata para muassis NU menetes akibat perpecahan di antara warga Nahdliyin.
Kedaulatan tetap berada di tangan muktamirin dan para ulama AHWA.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
