SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Partai Gerindra masih menjadi partai politik dengan elektabilitas tertinggi di Jawa Timur (Jatim). Sementara itu, Partai Demokrat menunjukkan tren peningkatan dalam survei terbaru Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI).
Peneliti ARCI Baihaki Sirajt mengatakan Gerindra masih berada di posisi teratas sejak akhir 2025. Sebagian besar partai lain cenderung stagnan. Demokrat justru terus mengalami peningkatan.
"Gerindra masih teratas di Jatim sejak akhir 2025. Partai lainnya cenderung stagnan, dan Demokrat terus berprogres," kata Baihaki saat memaparkan hasil survei di Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Berdasarkan survei ARCI, elektabilitas Gerindra mencapai 16,3 persen. Posisi kedua ditempati PKB dengan 15,1 persen, disusul PDI Perjuangan 13,7 persen.
Golkar dan Demokrat sama-sama berada di angka 12,5 persen. Selanjutnya PSI 5,1 persen, PAN 4,2 persen, NasDem 4,1 persen, PKS 4,1 persen, PPP 1,5 persen, dan Perindo 1,1 persen.
Sementara partai lainnya mencapai 3,5 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 6,3 persen.
Baihaki menyebut aktivitas kader dan legislator menjadi salah satu faktor yang menopang elektabilitas Gerindra. Menurutnya, banyak legislator Gerindra aktif turun ke masyarakat. Mereka juga mengawal program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus menyerap aspirasi warga.
"Memang legislator Gerindra ini banyak yang aktif tentunya mengawal program presiden termasuk mereka juga menyerap aspirasi warga," ujarnya.
Selain itu, banyak kepala daerah di Jatim yang berasal dari Gerindra. Kondisi tersebut dinilai ikut memberikan dampak terhadap elektabilitas partai.
Baihaki juga menyebut posisi Gerindra sebagai partai pengusung presiden memberikan keuntungan dari sisi top of mind masyarakat.
Meski demikian, dia menilai elektabilitas Gerindra masih dapat ditingkatkan. Salah satunya melalui penguatan kinerja kader yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Baihaki menyebut elektabilitas PKB cenderung stagnan. PDIP mengalami kenaikan tipis. Sementara Golkar justru mengalami penurunan sejak akhir 2025.
"PKB stagnan, untuk PDI ada progres meski sangat kecil. Sementara Golkar menurun sejak akhir tahun 2025 lalu," katanya.
Tren berbeda terlihat pada Demokrat. Partai berlambang bintang mercy itu mengalami peningkatan elektabilitas.
"Kenaikan justru ada di Demokrat dampak kerja-kerja elektoral dari Emil Dardak beserta pengurus DPD selama setahun terakhir," ujarnya.
Baihaki menilai perubahan kepengurusan DPD Demokrat Jatim pada 2025 ikut mendorong peningkatan tersebut. Aktivitas partai di masyarakat dinilai menjadi lebih terlihat.
"Tentu adanya perombakan pada susunan kepengurusan DPD Demokrat Jatim pada tahun 2025 memberi dampak, sehingga Demokrat ini lebih hidup dengan berbagai program langsung ke masyarakat," katanya.
Selain itu, Demokrat disebut mendapat coattail effect dari Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua DPD Demokrat Jatim Emil Elestianto Dardak.
Baihaki menyebut AHY sebagai salah satu menteri dengan kinerja yang dinilai positif. Sementara elektabilitas Emil Dardak juga disebut mengalami peningkatan di Jatim.
"Semakin banyak warga yang tahu bahwa Emil Dardak adalah Ketua Demokrat Jatim," ujarnya.
Di sisi lain, Baihaki menyoroti penurunan elektabilitas PPP. Angka tersebut disebut menjadi yang terendah selama ARCI melakukan survei di Jatim.
"Hampir di semua segmen wilayah, PPP anjlok. Hanya di Madura saja PPP masih bisa bersaing bahkan bisa di 5 besar," katanya.
Menurut Baihaki, kondisi tersebut menjadi peringatan bagi PPP yang menargetkan kembali lolos ke DPR RI pada Pemilu 2029. Jatim merupakan salah satu basis suara penting.
Dia menilai minimnya popularitas tokoh PPP di Jatim turut memengaruhi elektabilitas partai. Kondisi berbeda terjadi di Madura karena PPP masih memiliki tokoh yang kuat dan mengakar.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
