GRESIK, iNewsSurabaya.id - Perusahaan galangan kapal, PT Orela Shipyard menghadapi berbagai tantangan ketidakpastian industri maritim global, termasuk pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Untuk memperkuat posisinya, perusahaan yang berlokasi di Gresik ini menyiapkan serangkaian strategi strategis. Mulai dari pengembangan SDM hingga modernisasi infrastruktur.
Technical and Development Director PT Orela Shipyard, Soegeng Riyadi mengungkapkan bahwa dukungan pemerintah melalui regulasi yang mewajibkan komitmen pembangunan kapal di dalam negeri memberikan perlindungan penting bagi industri perkapalan nasional.
"Ketika shipping company akan membeli kapal dari luar negeri, mereka harus memiliki komitmen agar sisa kapal lainnya dibangun di dalam negeri. Ini salah satu komitmen pemerintah untuk industri perkapalan di Indonesia," ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Guna menjawab tantangan kebutuhan sumber daya manusia, PT Orela Shipyard menjalin kerja sama strategis dengan berbagai perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Khususnya yang memiliki program studi teknik perkapalan. Antara lain, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).
“Langkah kolaborasi ini mencakup program pemagangan hingga riset bersama agar pengembangan teknologi galangan tidak hanya bergantung pada riset mandiri,” terangnya.
Dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan ke depan, PT Orela Shipyard merencanakan perombakan dan investasi infrastruktur besar-besaran untuk mendongkrak kapasitas produksi. Perusahaan mengalokasikan investasi sebesar Rp50 miliar untuk memenuhi kebutuhan alur produksi secara menyeluruh.
Investasi ini difokuskan pada pengadaan dan modernisasi peralatan berat, seperti gantry crane, sandblasting otomatis, serta welding gantry.
"Dalam output produksi, kontribusi mesin mencapai 30%, human resource 40%, dan metode atau engineering 30%. Investasi mesin dan peralatan ini akan mempercepat sekaligus meningkatkan kapasitas produksi kami secara signifikan," jelasnya.
Melalui investasi ini, perusahaan afiliasi dari PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) ini menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan baja dari 300 ton per bulan menjadi 450 ton per bulan pada tahun 2027. Angka ini setara dengan kapasitas produksi 6.000 ton baja per tahun.
Direktur Produksi PT Orela Shipyard Heri Kurniawan menambahkan, pihaknya saat ini tengah menggarap total 13 unit kapal, yang terdiri dari 5 unit kapal baja (termasuk escort tug, yacht, dan LCT) serta 8 unit kapal aluminium (seperti crewboat berbagai ukuran dan pilot boat). “Sebagian dari proyek kapal aluminium tersebut diperuntukkan bagi pasar ekspor ke wilayah Timur Tengah dan Taiwan,” katanya.
Selain itu, galangan kapal ini juga bersiap memulai proyek pembuatan kapal Platform Supply Vessel (PSV) berdimensi panjang 86 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 27 meter. Proyek tersebut menjadi salah satu lompatan besar bagi kapasitas galangan perusahaan.
Dengan portofolio pesanan yang padat, PT Orela Shipyard mencatat tingkat pemesanan kapasitas penuh (overbooking) hingga tahun 2030, mempertegas komitmennya untuk terus mendukung pemenuhan kebutuhan armada kapal baik nasional maupun internasional.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
