SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan langkah baru untuk memperkuat mitigasi bencana gempa. Sebanyak 4 hingga 5 unit alat pendeteksi gempa bumi atau seismograf direncanakan dipasang di sejumlah titik Kota Surabaya pada 2026.
Pemasangan perangkat tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya memantau aktivitas dua sesar aktif yang melintasi wilayah Kota Pahlawan. Data dari alat tersebut nantinya diharapkan dapat membantu pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan perangkat yang disiapkan merupakan Raspberry Shake RS6D. Teknologi tersebut diusulkan tim geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dipimpin pakar geologi Prof. Amien Widodo.
Menurut Irvan, Raspberry Shake RS6D dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan pemantauan gempa di kawasan perkotaan. Ukurannya relatif kecil sehingga lebih mudah ditempatkan di lokasi yang memiliki keterbatasan ruang.
“Alatnya yang berukuran kecil juga memudahkan penempatan di area kota yang terbatas,” ujar Irvan.
Selain praktis, perangkat tersebut dapat merekam getaran mulai dari gempa berskala kecil hingga getaran yang lebih kuat. Sistemnya juga didukung teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sehingga data getaran dapat direkam dan dipantau secara cepat.
Pemkot Surabaya menyebut kebutuhan ideal pemantauan gempa di seluruh wilayah kota mencapai sekitar 14 stasiun pemancar. Namun, pemasangan dilakukan secara bertahap.
Untuk tahap awal, pemerintah menargetkan 4 hingga 5 unit seismograf terpasang terlebih dahulu pada 2026. Lokasi pemasangan akan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk ketersediaan jaringan internet.
“Pemasangan akan diutamakan berada di ruang-ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
