Keberadaan alat tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan data mengenai aktivitas kegempaan, tetapi juga memperkuat sistem mitigasi bencana di Surabaya.
Irvan mengatakan data hasil pemantauan nantinya dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem peringatan dini. Pemkot Surabaya berencana mengintegrasikan informasi tersebut dengan pusat kendali Command Center 112.
“Dengan pemasangan alat ini, kami juga ingin membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kendali, Command Center 112,” imbuhnya.
Pemkot Ingatkan Warga Tak Terpengaruh Hoaks Gempa
Di tengah munculnya berbagai informasi mengenai potensi gempa di media sosial, Pemkot Surabaya meminta masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi.
Pemkot menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk Stasiun Geofisika Probolinggo dan Pasuruan, serta melibatkan tim ahli ITS untuk memberikan informasi berdasarkan data dan kajian ilmiah.
Irvan mengatakan karakteristik sesar di wilayah Surabaya merupakan bagian yang perlu dipantau secara berkala. Kendati terdapat potensi getaran, masyarakat diminta tidak merespons informasi yang belum terverifikasi dengan kepanikan.
“Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Fokus utama masyarakat adalah meningkatkan kewaspadaan diri dan keluarga tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari,” tegasnya.
Dua Sesar Aktif Melintasi Surabaya
Rencana pemasangan seismograf tersebut berkaitan dengan hasil survei Pemkot Surabaya bersama tim ahli geologi mengenai keberadaan dua patahan aktif dari sistem Sesar Kendeng yang melintasi wilayah Surabaya.
Dua struktur patahan yang menjadi perhatian tersebut adalah Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
Pakar Geologi Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si menjelaskan, kedua patahan tersebut memiliki karakteristik patahan naik atau thrust fault. Aktivitas geologis itu berkaitan dengan adanya dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan dapat mengangkat lapisan tanah.
Proses tersebut, menurut Amien, turut berkaitan dengan terbentuknya struktur perbukitan memanjang di sejumlah wilayah kota.
Karena itu, pemantauan aktivitas sesar dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan. Sejumlah instrumen seismograf nantinya ditempatkan di titik-titik strategis, terutama di sekitar jalur patahan dan wilayah Kota Surabaya.
“Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan,” pungkas Amien.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
