SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia terus menunjukkan kemajuan dalam satu dekade terakhir. Namun, peningkatan literasi belum sepenuhnya diikuti dengan perluasan inklusi atau penggunaan produk ekonomi dan keuangan syariah oleh masyarakat.
Koordinator Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026, Yono Haryono mengatakan, posisi Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Indicator kini berada di peringkat keempat dunia.
Posisi tersebut meningkat cukup jauh dibandingkan sekitar satu dekade lalu ketika Indonesia masih berada di peringkat ke-10. Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, posisi Indonesia mengalami penurunan dari peringkat ketiga menjadi keempat.
“Kalau kita lihat indikator State of the Global Islamic Economy yang dikeluarkan secara global, Indonesia saat ini menempati posisi keempat di dunia,” ujar Yono disela kegiatan Fesyar Regional Jawa 2026 di Surabaya, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, perkembangan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dilakukan Bank Indonesia bersama kementerian, lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan. Termasuk melalui kegiatan Fesyar 2026.
Salah satu indikator yang menunjukkan peningkatan adalah tingkat literasi ekonomi syariah masyarakat. Yono menyebut hasil survei yang dilakukan pihaknya menunjukkan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia telah mencapai sekitar 50 persen pada tahun lalu. “Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 30 persen,” katanya.
Meski literasi meningkat, Yono menyebut tingkat inklusi ekonomi syariah masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan survei yang dilakukan tahun lalu, tingkat inklusi ekonomi syariah masih berada di sekitar 17 persen.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mendorong masyarakat yang sudah memahami ekonomi syariah untuk benar-benar menggunakan produk dan layanan syariah.
“Inklusinya masih menjadi PR semua, baik ekonomi maupun keuangan. Survei kami tahun lalu inklusinya masih di angka 17 persen,” ujarnya.
Yono mengatakan peningkatan inklusi membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Tidak hanya lembaga keuangan dan pemerintah, tetapi juga media massa untuk terus memperkenalkan ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat.
“Bagaimana kita terus-menerus menggaungkan ekonomi keuangan syariah, sehingga bukan hanya literasinya yang meningkat, tetapi inklusinya juga,” katanya.
Yono menjelaskan, keterlibatan Bank Indonesia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah salah satunya didorong oleh besarnya potensi Indonesia.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Menurut Yono, besarnya jumlah penduduk Muslim seharusnya tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga mampu mendorong Indonesia menjadi produsen dan pemain utama ekonomi syariah global.
“Dengan populasi yang besar, kita harusnya menjadi produsen, bukan hanya konsumen,” ujarnya.
Potensi tersebut juga terlihat dari keberadaan pelaku usaha berbasis syariah, termasuk pondok pesantren. Yono menyebut jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 40.000 dan memiliki potensi ekonomi yang besar.
“Kalau dilihat dari potensi ekonominya, itu sangat luar biasa. Ini yang kemudian mendorong Bank Indonesia bersama stakeholder lainnya untuk mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” katanya.
Sementara itu, Dr. Anisa Fadilah Zustika, S.E., M.E. menilai perkembangan ekonomi syariah sebenarnya tidak terlalu terkendala dari sisi produk, infrastruktur maupun regulasi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
