Harjo mengatakan, Untag Surabaya terus berupaya meningkatkan posisi dan pengakuan internasional. Dalam pemeringkatan akreditasi tingkat Asia, Untag Surabaya saat ini berada di posisi 250.
Capaian tersebut menjadi pijakan untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan, riset, inovasi, serta kerja sama internasional.
"Kami ingin terus meningkatkan kualitas dan memperluas kerja sama yang sudah terbangun. Tantangan ke depan semakin besar sehingga seluruh elemen kampus harus bergerak bersama untuk mencapai target internasionalisasi," katanya.
Solar Cell Jadi Bagian Transformasi Kampus
Di tengah agenda internasionalisasi tersebut, Untag Surabaya mulai menempatkan isu lingkungan sebagai bagian dari pengembangan kampus.
Wakil Rektor II Untag Surabaya, Supangat, M.Kom., Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA., menjelaskan pemanfaatan energi matahari tidak berdiri sendiri. Program solar cell menjadi bagian dari konsep yang lebih besar untuk membangun ekosistem kampus berkelanjutan.
"Pengembangan lingkungan menjadi salah satu bagian penting untuk menuju World Class University. Kami tidak hanya mengembangkan energi terbarukan, tetapi juga membangun ekosistem kampus yang berkelanjutan melalui berbagai inovasi," jelas Supangat.
Selain solar cell, Untag Surabaya mengembangkan sejumlah program lingkungan lainnya. Di antaranya budidaya hidroponik serta pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Berbagai program tersebut diarahkan agar saling terhubung sehingga pengelolaan lingkungan di kampus tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi membentuk pola yang berkelanjutan.
Untuk teknologi tenaga surya, Untag Surabaya memilih sistem yang memanfaatkan energi matahari secara langsung pada siang hari tanpa menggunakan baterai penyimpanan.
Artinya, ketika matahari bersinar, energi yang dihasilkan solar cell digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik kampus. Sementara kebutuhan listrik pada malam hari tetap mengandalkan jaringan listrik konvensional.
"Kami merancang sistem yang tidak menggunakan baterai. Pada siang hari, energi dari solar cell dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik kampus, sedangkan pada malam hari menggunakan listrik dari jaringan yang tersedia," ungkap Supangat.
Persiapan Solar Cell Capai 90 Persen
Realisasi program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan salah satu perusahaan yang memberikan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Supangat menyebut persiapan dan proses kerja sama pengembangan solar cell tersebut kini telah mencapai sekitar 90 persen.
Dukungan tersebut diharapkan mempercepat penerapan teknologi energi matahari di lingkungan Untag Surabaya.
Tidak berhenti pada satu lokasi, kampus menargetkan pemanfaatan solar cell nantinya dapat diperluas ke seluruh gedung.
"Target kami, seluruh gedung di Untag Surabaya dapat menerapkan teknologi ini. Kami ingin membangun kampus yang tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan," tegasnya.
Jika target tersebut terealisasi, pemanfaatan energi surya tidak lagi sebatas proyek percontohan. Teknologi tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengelolaan fasilitas pendidikan sehari-hari.
Pengembangan kampus berkelanjutan juga dikaitkan dengan tuntutan penerapan K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan). Untag Surabaya berencana memperkuat penerapan standar tersebut mulai 2027 sebagai bagian dari peningkatan tata kelola dan daya saing perguruan tinggi.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Rektor I Untag Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, dan Wakil Rektor III, Dr. Sumiati, M.M., turut hadir mendukung pengembangan program serta penguatan kolaborasi di lingkungan kampus.
Publikasi Inovasi Juga Jadi Perhatian
Selain pembangunan fisik dan inovasi energi, Untag Surabaya menilai komunikasi publik memiliki peran penting dalam memperkuat reputasi perguruan tinggi.
Supangat mengatakan berbagai prestasi dosen, mahasiswa, maupun inovasi kampus perlu dikomunikasikan secara lebih luas. Publikasi tersebut dinilai penting agar capaian Untag Surabaya tidak hanya diketahui di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga mendapat perhatian di tingkat internasional.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan kehumasan. Di antaranya keterbatasan peliputan prestasi dosen, eksposur di media internasional yang masih perlu diperluas, serta jangkauan publikasi yang belum maksimal.
Pengemasan informasi juga menjadi perhatian. Menurut Supangat, capaian perguruan tinggi perlu disampaikan dengan cara yang lebih menarik sehingga mudah dipahami masyarakat.
Karena itu, Untag Surabaya mendorong penguatan kolaborasi dengan media massa melalui berbagai kegiatan, termasuk edukasi, pelatihan, dan lokakarya.
Sinergi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas komunikasi sekaligus memperluas informasi mengenai riset, inovasi, prestasi mahasiswa dan dosen, serta kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Harjo menegaskan, pencapaian target internasionalisasi dan pembangunan kampus berkelanjutan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen perguruan tinggi.
Ia berharap kerja sama yang telah terbangun dapat terus diperkuat sehingga berbagai program tidak berjalan sendiri-sendiri.
"Kami berharap kerja sama yang sudah terjalin dapat terus dikembangkan. Dengan kolaborasi yang baik, kami optimistis berbagai inovasi, termasuk pengembangan energi matahari dan kampus berkelanjutan, dapat memberikan manfaat lebih luas," pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
