Berusia 100 Tahun, Sumur Panas Bumi Kamojang Jadi Saksi Sejarah Energi Indonesia

Lukman Hakim
Sumur panas bumi KMJ-3 di kawasan Kamojang, Jawa Barat. (Foto : tangkapan layar akun instagram @tina_talisa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sumur panas bumi KMJ-3 di kawasan Kamojang, Jawa Barat, menjadi saksi panjang perjalanan pengembangan energi panas bumi di Indonesia. 

Dibor pada 1926, sumur yang memiliki kedalaman sekitar 60 meter itu dilaporkan masih mengeluarkan uap panas bumi hingga saat ini.

Sejarah tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan pemanfaatan energi panas bumi di Tanah Air. Dari pengeboran eksplorasi pada masa Hindia Belanda hingga beroperasinya pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) secara komersial, Kamojang menunjukkan perjalanan panjang pemanfaatan energi dari dalam bumi.

Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa menyoroti sejarah tersebut saat mengunjungi PLTP Kamojang pada Rabu (14/10/2026). Kunjungan itu dilakukan untuk melihat langsung proses produksi listrik berbasis energi panas bumi sekaligus memahami aspek keamanan dan keberlanjutan pengelolaannya.

“Perjalanan panas bumi Kamojang dimulai tepat 100 tahun lalu. Di tahun 1926 Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran eksplorasi di kawasan ini. Salah satunya adalah sumur KMJ-3 yang dibor hanya sekitar 60 meter. Menariknya, hingga hari ini masih mengeluarkan uap panas bumi,” ujar Tina melalui akun Instagram pribadinya, @tina_talisa.

Tina yang juga menjabat Komisaris Pertamina Patra Niaga menilai, kekayaan geologi Indonesia dapat menjadi sumber energi yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan listrik nasional serta transisi energi.

Perjalanan pengembangan panas bumi Kamojang berlanjut pada 1978, ketika kawasan tersebut mulai menghasilkan listrik sebesar 0,25 megawatt (MW). Pada 1983, PLTP Kamojang Unit 1 berkapasitas 30 MW mulai beroperasi secara komersial.

Kini, kawasan PLTP Kamojang memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 MW. Perkembangan tersebut menjadikan Kamojang sebagai salah satu tonggak sejarah pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia.

Di balik produksi listrik tersebut, terdapat sistem panas bumi yang terbentuk melalui proses geologi. Manager Laboratory Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Teza Permana, menjelaskan bahwa Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas vulkanik tinggi.

Panas dari magma dapat memanaskan batuan di kerak bumi. Panas tersebut kemudian memanaskan fluida yang berada di celah dan pori-pori batuan hingga membentuk reservoir panas bumi.

Menurut Teza, pengeboran untuk menjangkau reservoir panas bumi umumnya dilakukan hingga kedalaman sekitar 2.000 meter atau dua kilometer di bawah permukaan tanah. Kedalaman itu masih berada di lapisan kerak bumi, bukan mendekati inti bumi yang berada ribuan kilometer di bawah permukaan.

“Itulah yang menjadi target pengeboran kita di reservoir panas bumi. Sebetulnya yang kita bicarakan adalah bagian kulit luarnya saja,” ujar Teza.

Ia menjelaskan, air yang digunakan masyarakat sehari-hari umumnya berasal dari akuifer dangkal yang mendapat pasokan dari air permukaan. Sementara itu, fluida panas bumi berada dalam sistem reservoir yang lebih dalam, dengan karakteristik temperatur dan tekanan berbeda.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengelolaan sumber daya air pada kegiatan panas bumi. Meski demikian, perlindungan sumber air tetap membutuhkan pengelolaan sumur dan pemantauan lingkungan secara berkala.

Teza juga memaparkan mekanisme produksi listrik di PLTP. Uap yang diperoleh dari reservoir digunakan untuk menggerakkan turbin, kemudian menghasilkan listrik yang disalurkan kepada masyarakat.

“Yang kita manfaatkan itu adalah steam-nya. Steam-nya itu akan kita gunakan untuk memutar turbin. Turbin berputar akan menghasilkan listrik yang kita distribusikan kepada masyarakat,” jelasnya.

Setelah proses produksi, air dikembalikan ke bawah permukaan melalui sumur injeksi. Sumur produksi dan sumur injeksi ditempatkan pada titik berbeda untuk membantu menjaga kondisi reservoir dan keberlanjutan produksi energi.

Pengaturan injeksi diperlukan karena fluida yang dikembalikan memiliki temperatur lebih rendah dibandingkan fluida dari sumur produksi. Jika fluida yang lebih dingin mencapai sumur produksi terlalu cepat, kondisi tersebut dapat memengaruhi entalpi atau kandungan energi fluida panas bumi.

“Karena temperatur di sumur injeksi itu sedikit lebih rendah dibandingkan sumur produksi,” kata Teza.

Karena itu, lokasi dan laju injeksi perlu dikelola agar produktivitas reservoir tetap terjaga. Mekanisme ini menjadi bagian dari pengelolaan operasional PLTP untuk mendukung keberlanjutan pasokan energi panas bumi.

Di luar nilai sejarahnya, Kamojang juga menjadi gambaran potensi panas bumi Indonesia. Potensi energi panas bumi nasional diperkirakan mencapai 23,2 gigawatt (GW), sedangkan kapasitas terpasang yang telah dimanfaatkan sekitar 2,78 GW.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kapasitas pembangkit panas bumi yang telah terpasang masih jauh di bawah potensi nasional. Pengembangan sumber energi ini berpeluang memperkuat pasokan listrik sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network