Pernyataan tersebut menegaskan bahwa inovasi manajemen tidak cukup berhenti pada pemanfaatan teknologi. Organisasi juga perlu mengembangkan metode pengambilan keputusan, pola kerja, serta strategi bisnis yang mampu menjawab tantangan secara terukur.
Dalam konteks akademik, penelitian manajemen diharapkan menghasilkan pengetahuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dengan demikian, hubungan antara riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.
Selain Prof. Badri, seminar tersebut menghadirkan Suyanto Mahdiputra, Ph.D., pendiri sekaligus CEO Royal Segoro Group, perusahaan yang bergerak di bidang Engineering Procurement Construction Management (EPCM). Kehadiran akademisi dan praktisi membuka ruang pembahasan mengenai hubungan antara pengembangan teori manajemen dan penerapannya dalam dunia usaha.
Semnas FMI Jawa Timur XVIII 2026 diikuti 1.015 peserta melalui skema hybrid, terdiri atas 721 peserta daring dan 294 peserta luring. Para peserta berasal dari 198 perguruan tinggi dan institusi yang tersebar di 27 provinsi serta 88 kota di Indonesia.
Sekretaris Jenderal FMI, Dr. Tuwanku Aria Auliandri, S.E., M.Sc., dari FEB Unair, menilai forum akademik lintas institusi memiliki peran penting dalam mempertemukan hasil penelitian, perspektif keilmuan, dan pengalaman praktis.
“Forum seperti ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan perspektif, hasil penelitian, dan pengalaman dari berbagai perguruan tinggi maupun institusi. Kami berharap interaksi ini dapat mendorong kolaborasi yang berkelanjutan, menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha, serta memperkuat kontribusi ilmu manajemen bagi pembangunan Indonesia,” tuturnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan selama seminar. Pertemuan antara peneliti, perguruan tinggi, dan praktisi dapat membuka peluang pengembangan riset bersama, sekaligus mendorong penerapan hasil penelitian untuk menjawab kebutuhan organisasi dan masyarakat.
Ketua Panitia FMI XVIII Jawa Timur, Dr. Yetty Dwi Lestari, S.E., M.T., juga menekankan pentingnya tindak lanjut dari setiap pembahasan ilmiah yang berlangsung dalam forum tersebut.
“Kami berharap forum ini bukan hanya menjadi tempat penyampaian hasil penelitian, melainkan juga ruang dialog yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan peluang kerja sama yang dapat ditindaklanjuti setelah kegiatan berakhir,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan FMI Jawa Timur XVIII 2026 diawali dengan lokakarya pada 20 Oktober 2026 yang menghadirkan Prof. Dr. Ananda Sabil Husein, S.E., M.Com., Wakil Dekan I FEB Universitas Brawijaya, Malang.
Lokakarya tersebut membahas strategi memperoleh hibah penelitian bagi dosen. Materi mencakup pemilihan tema riset, penyusunan proposal, hingga pengelolaan pendanaan penelitian.
Pembahasan ini berkaitan dengan upaya memperkuat kapasitas peneliti di lingkungan perguruan tinggi. Kemampuan menyusun penelitian yang terarah dan relevan menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan temuan yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan sekaligus memberikan solusi atas persoalan di masyarakat.
FMI Jawa Timur XVIII 2026 merupakan penyelenggaraan seminar nasional tahunan ke-18 sejak asosiasi tersebut dibentuk. FMI didirikan di FEB Universitas Airlangga pada 2008 sebagai wadah akademik dan profesional yang mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, praktisi, serta profesional di bidang manajemen.
Melalui kegiatan ilmiah, diseminasi hasil penelitian, dan pertukaran pengetahuan, FMI mendorong pengembangan ilmu manajemen yang mampu mengikuti perubahan zaman. Tantangan transformasi digital, pemanfaatan AI, dan keberlanjutan kini menuntut pendekatan yang lebih adaptif agar riset serta pendidikan manajemen dapat memberikan kontribusi nyata bagi organisasi, industri, dan pembangunan nasional.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
