SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Anggaran pengadaan logistik untuk penanganan bencana di Jawa Timur (Jatim) sebesar Rp41,35 miliar menjadi sorotan DPRD Jatim. Besarnya alokasi belanja tersebut dinilai perlu dievaluasi, terutama karena pengadaan mi instan menyerap anggaran hingga Rp17,24 miliar.
Jika dihitung menggunakan asumsi harga eceran rata-rata Rp3.000 per bungkus, anggaran tersebut setara dengan sekitar 5,74 juta bungkus mi instan. Jumlah ini memunculkan pertanyaan mengenai proporsi belanja logistik serta pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat yang terdampak bencana.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Wara Sundari Renny Pramana, melontarkan kritik terhadap komposisi anggaran tersebut. Dia menilai kebijakan pengadaan logistik bencana seharusnya tidak hanya berorientasi pada besarnya jumlah barang yang dibeli, tetapi juga memperhatikan kualitas makanan dan kesehatan para pengungsi.
"Penanganan korban bencana tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak bantuan yang dibeli atau disalurkan. Logistik jangan hanya berorientasi mengenyangkan perut, tetapi melupakan gizi masyarakat," tegasnya, Minggu (1/11/2026).
Menurut Renny, kebutuhan pangan di lokasi pengungsian tidak bisa disamaratakan. Bayi, ibu hamil, anak-anak, hingga lanjut usia membutuhkan asupan nutrisi yang berbeda dan tidak cukup jika hanya mengandalkan mi instan.
Karena itu, dia mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim mengevaluasi komposisi belanja logistik. Anggaran pengadaan pangan perlu diarahkan pada bahan makanan bergizi seperti telur, ikan, susu, dan sayuran agar kebutuhan kelompok rentan tetap terpenuhi selama berada di pengungsian.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
