Rapat Kiai Sepuh di Tebuireng, Prof Nuh Tegaskan Pemberhentian Gus Yahya Bersifat Final
Silaturahmi para kiai di Tebuireng ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sesepuh NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, 30 November lalu. Pertemuan tersebut ditandatangani oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz.
Tokoh-tokoh yang hadir antara lain: Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, KH Nurul Huda Djazuli, Nyai Hj Mahfudloh Aly Ubaid (Tambakberas), KH Muhammad Nuh, KH Abdussalam Sohib (Gus Salam) dari Denanyar, Gus Kautsar dari Ploso Kediri Dan tentu, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
Kehadiran Gus Yahya sendiri menjadi sorotan. Ia datang memenuhi panggilan para kiai sepuh untuk memberikan klarifikasi secara terbuka.
Gus Yahya: “Saya Siap Menjawab Semua Pertanyaan Para Kiai”
Gus Yahya tampak tenang saat memasuki kompleks pesantren. Kepada wartawan, ia menegaskan bahwa dirinya datang dengan penuh iktikad baik untuk menjelaskan semua hal terkait polemik internal PBNU.
“Apa pun yang diminta para kiai, saya siap. Semua dokumen dan penjelasan saya bawa lengkap,” ujarnya sambil menunjukkan tas berisi berkas-berkas.
Ia berharap kehadirannya dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang belakangan memanas.
“Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal penyelesaian. Namun sampai pukul 12.30 WIB, Rais Aam belum hadir. Kalau tidak datang? Ya nanti kita serahkan sepenuhnya kepada para kiai sepuh,” katanya.
Pertemuan di Tebuireng menjadi salah satu momen paling penting dalam dinamika organisasi NU tahun ini. Para kiai sepuh yang hadir memiliki otoritas moral besar, sehingga arah PBNU ke depan sangat mungkin ditentukan dari forum konsultatif ini.
Dengan rencana pleno pada 9 Desember nanti, publik Nahdliyin kini menanti keputusan final mengenai struktur kepemimpinan PBNU dan bagaimana organisasi terbesar di Indonesia ini melangkah melewati turbulensi internal.
Editor : Arif Ardliyanto