Kata Adalah Senjata, Warisan Etika Politik Adi Sutarwijono
Misa penutupan peti berlangsung khidmat. Setelah itu, Mas Awi dibawa ke Gedung DPRD Kota Surabaya untuk penghormatan terakhir di ruang yang selama ini menjadi tempat pengabdiannya. Dari sana, iring-iringan bergerak menuju Taman Pemakaman Keputih, Sukolilo, Surabaya.
Mas Awi adalah bagian dari generasi yang ditempa oleh turbulensi Reformasi, generasi yang tahu bahwa kebebasan berbicara bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan.
Tahun 1998 mengajarkan bahwa kata bisa mengguncang kekuasaan. Mas Awi mengajarkan bahwa kata juga bisa merawat demokrasi.
Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan partai. Surabaya kehilangan seorang politisi yang memilih penyelesaian daripada sensasi, yang menjaga etika dalam ruang publik. Setiap doa, setiap langkah yang datang, dan setiap bentuk dukungan yang diberikan menjadi penguatan bagi keluarga di masa yang tidak mudah ini.
“Kami memohon doa agar Mas Awi diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga seluruh pengabdian serta kebaikannya menjadi amal yang terus mengalir,” kata Didik.
Editor : Arif Ardliyanto