Pelajar yang Hilang di Gunung Ijen Ditemukan dalam Kondisi Lemas, Begini Cerita Tim Penyelamat
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Kabar melegakan datang dari kawasan Gunung Ijen. Seorang anak yang sebelumnya dilaporkan hilang saat melakukan pendakian akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat.
Korban diketahui bernama Muhammad Dzikri Maulana, warga Dusun Ampelgading, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Ia sempat terpisah dari rombongan saat berada di jalur menuju kawah dan titik sunrise—area favorit pendaki untuk menyaksikan matahari terbit.
Peristiwa ini sempat membuat keluarga dan rombongan panik, mengingat kondisi medan di kawasan Ijen yang berbukit dan berkabut, terutama menjelang sore hari.
Kepala Resort Kawah Ijen, Rusdi Santoso, menjelaskan bahwa tim gabungan langsung bergerak cepat menyisir sejumlah titik jalur pendakian hingga mendekati kawah.
“Proses pencarian dilakukan oleh petugas bersama tim gabungan dengan menyisir sejumlah titik di kawasan Gunung Ijen sampai ke kawah,” ujarnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil sekitar pukul 16.30 WIB. Korban ditemukan di area dekat sunrise, sekitar 890 meter dari lokasi awal dilaporkan terpisah.
Kepala Seksi KSDA Wilayah Banyuwangi, Dwi Putro Sugiarto, menyampaikan bahwa saat ditemukan, korban dalam kondisi lemas akibat kelelahan dan diduga kekurangan asupan selama beberapa jam.
Setelah ditemukan, tim gabungan segera memberikan pertolongan pertama di lokasi sebelum mengevakuasi korban turun menuju Paltuding.
Sekitar pukul 17.50 WIB, korban berhasil dievakuasi dan langsung dibawa ke Puskesmas Licin untuk pemeriksaan lebih lanjut. Beruntung, tidak ditemukan luka serius pada tubuhnya.
Petugas memastikan kondisi korban stabil dan hanya membutuhkan waktu istirahat serta pemulihan akibat kelelahan.
Dengan ditemukannya Muhammad Dzikri Maulana dalam keadaan selamat, operasi pencarian resmi dihentikan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki yang hendak menikmati keindahan Gunung Ijen, salah satu destinasi unggulan di Banyuwangi yang dikenal dengan fenomena api birunya.
Petugas mengimbau agar setiap pendaki: Tidak berjalan sendiri atau terpisah dari rombongan, Mematuhi arahan pemandu dan petugas, Memperhatikan kondisi fisik sebelum mendaki dan Mengantisipasi perubahan cuaca ekstrem
Pendakian bukan sekadar perjalanan menikmati panorama alam, tetapi juga membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kedisiplinan. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Editor : Arif Ardliyanto