Lebaran di Balik Jeruji, Haru Warga Binaan Lapas Banyuwangi: Takbir Jadi Simbol Harapan Baru
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Suara takbir yang menggema memecah keheningan di dalam area Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi. Di balik tembok tinggi dan kawat berduri, ratusan warga binaan merayakan Hari Raya Idulfitri dengan suasana yang tak biasa—hening, khusyuk, sekaligus penuh haru.
Lebaran tahun ini memang berbeda bagi mereka. Jauh dari pelukan keluarga dan hangatnya suasana rumah, para warga binaan tetap berusaha menghidupkan makna hari kemenangan dengan cara yang sederhana namun mendalam: beribadah dengan sepenuh hati.
Sejak malam takbiran, lantunan kalimat suci terdengar bersahut-sahutan dari dalam lapas. Takbir yang dikumandangkan bersama bukan sekadar tradisi, melainkan menjadi ruang pengakuan batin—tentang penyesalan, harapan, dan tekad untuk memperbaiki diri.
Pagi harinya, pelaksanaan salat Idulfitri berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Para warga binaan mengikuti setiap rangkaian ibadah dengan disiplin, mencerminkan pembinaan spiritual yang terus berjalan di dalam lapas.
Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menegaskan bahwa hak beribadah tetap menjadi prioritas utama, tanpa memandang latar belakang hukum para penghuni lapas.
“Negara menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana. Kami berupaya menghadirkan suasana Idulfitri agar tetap bermakna sebagai momentum penyucian diri,” ujarnya.
Lebih dari sekadar perayaan, Idulfitri di dalam lapas menjadi ruang refleksi yang dalam. Di tengah keterbatasan, para warga binaan memaknai momen ini sebagai titik balik untuk menata masa depan.
Menurut Wayan, sikap positif dan kepatuhan terhadap aturan menjadi indikator penting dalam pengusulan Remisi Khusus Hari Raya. Ia berharap, semangat Idulfitri dapat menjadi bekal perubahan saat mereka kembali ke tengah masyarakat.
“Semoga momen ini menjadi pengingat sekaligus penyemangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya,” tambahnya.
Salat Idulfitri kali ini dipimpin oleh Ustaz Ali Mahrus sebagai imam dan khatib. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk tidak memadamkan cahaya keimanan, meski berada dalam situasi sulit.
“Bisa jadi, ujian di balik jeruji ini adalah cara Tuhan mendewasakan kita dan memperkuat ketakwaan,” pesannya di hadapan jamaah.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa bersama yang berlangsung khidmat. Suasana semakin hangat ketika warga binaan dan petugas saling bersalaman, memaafkan satu sama lain. Di momen itu, batas antara petugas dan warga binaan seakan memudar, digantikan oleh nuansa kekeluargaan yang tulus.
Di balik keterbatasan ruang dan kebebasan, Idulfitri di Lapas Banyuwangi menghadirkan cerita tentang harapan yang tetap hidup—bahwa setiap orang selalu punya kesempatan untuk berubah dan memulai kembali.
Editor : Arif Ardliyanto