Kisah Mahasiswa Turun ke Desa, Wujudkan Ide Jadi Aksi Nyata di Tengah Masyarakat
Pada pelaksanaan sebelumnya di tahun 2025, ratusan kelompok mahasiswa dari berbagai kampus ikut ambil bagian. Dari ratusan proposal yang masuk, hanya beberapa tim yang berkesempatan menjalankan program di desa wisata.
Empat di antaranya berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Lampung, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Gadjah Mada.
Di desa-desa tersebut, mahasiswa tidak hanya membawa konsep, tetapi juga belajar menyesuaikan diri dengan kondisi lokal—mulai dari membangun komunikasi dengan warga, memahami budaya setempat, hingga mencari solusi yang benar-benar bisa diterapkan.
Program ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan masyarakat. Mulai dari pengembangan pariwisata, pemberdayaan UMKM, pendidikan, hingga isu lingkungan dan kesehatan.
Setiap kelompok terdiri dari 10 hingga 12 mahasiswa lintas disiplin ilmu. Kombinasi ini diharapkan mampu menghadirkan sudut pandang yang lebih luas dalam menyelesaikan masalah.
Lokasi pengabdian pun tersebar di sejumlah desa wisata di Indonesia, seperti Belitung, Cianjur, Wonosobo, hingga Tomohon. Setiap daerah memiliki karakter dan tantangan yang berbeda, yang secara tidak langsung menjadi ruang belajar bagi para peserta.
Program ini tidak berlangsung dalam waktu singkat. Setelah proses seleksi, peserta terpilih akan menjalani serangkaian tahapan, mulai dari pembekalan, pelaksanaan di lapangan, hingga presentasi hasil akhir.
Pendaftaran Genera-Z Berbakti 2026 dibuka hingga 24 April, dengan pengumuman finalis pada akhir bulan. Selanjutnya, peserta akan melewati tahap penjurian sebelum akhirnya menjalankan program di lokasi yang telah ditentukan pada pertengahan tahun.
Bagi banyak mahasiswa, pengalaman seperti ini sering kali meninggalkan kesan mendalam. Tidak sedikit yang mengaku mendapatkan perspektif baru tentang kehidupan sosial, kesenjangan, hingga potensi yang dimiliki masyarakat di daerah.
Di tengah tuntutan akademik, program semacam ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah memiliki peran nyata jika diterapkan secara langsung.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat pun diharapkan tidak berhenti sebagai program sementara, tetapi menjadi bagian dari proses panjang dalam memahami dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Editor : Arif Ardliyanto