Kartini Masa Kini: Perempuan Tangguh yang Berani Tumbuh di Era Modern, Bukan Sekadar Dikenang
Dr. Sumiati, MM., Wakil Rektor 3 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
MEMAKNAI RADEN AJENG KARTINI modern tidak cukup berhenti pada seremoni tahunan. Spirit perjuangannya justru menemukan relevansi baru di tengah dunia yang berubah cepat. Hari ini, perempuan Indonesia tidak lagi hanya memperjuangkan akses pendidikan, tetapi juga ruang aktualisasi diri yang lebih luas, setara, dan bermakna.
Bagi saya, Kartini masa kini adalah perempuan yang berani belajar, berani berkembang, dan berani mengambil peran. Dunia digital, disrupsi teknologi, hingga dinamika sosial menuntut perempuan untuk tidak sekadar “ikut arus”, tetapi mampu membaca arah dan bahkan menciptakan gelombang perubahan. Di sinilah tantangan perempuan modern menjadi lebih kompleks: bukan hanya soal kesempatan, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang itu dengan kualitas diri yang mumpuni.
Jika dulu perjuangan perempuan identik dengan membuka pintu pendidikan, kini pintu itu sudah terbuka lebar. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana perempuan mampu bertahan dan unggul di dalamnya. Kecerdasan saja tidak lagi cukup. Perempuan masa kini dituntut memiliki karakter kuat, integritas, serta kemauan untuk terus bertumbuh. Dunia kerja, ruang publik, hingga ekosistem digital menilai lebih dari sekadar kemampuan teknis—mereka menilai konsistensi, etika, dan daya tahan mental.
Di titik ini, konsep personal power menjadi sangat penting. Perempuan tidak harus selalu memiliki jabatan tinggi untuk memberi pengaruh. Cara berpikir yang jernih, sikap yang bijak, serta komunikasi yang efektif sudah menjadi kekuatan tersendiri. Bahkan dalam keseharian, perempuan dapat menjadi agen perubahan—di keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat. Pengaruh itu lahir dari kualitas diri, bukan sekadar posisi.
Lebih jauh, ketika kekuatan personal ini dipadukan dengan kompetensi dan semangat continuous improvement, perempuan akan memiliki nilai diri yang tinggi. Mereka tidak mudah minder, tidak bergantung pada validasi eksternal, dan mampu berdiri sejajar di berbagai bidang. Ini bukan tentang menjadi lebih unggul dari laki-laki, tetapi tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan bahwa perjuangan belum sepenuhnya selesai. Stereotip gender, kesenjangan kesempatan, hingga ekspektasi sosial masih menjadi tantangan nyata. Perempuan sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit antara karier dan keluarga, antara ambisi pribadi dan norma sosial. Di sinilah semangat Kartini kembali diuji: apakah perempuan berani menentukan jalannya sendiri, dengan tetap menjunjung nilai dan tanggung jawab.
Kartini masa kini juga bukan sosok yang berjalan sendiri. Ia hadir dalam semangat kolaborasi. Perempuan saling menguatkan, berbagi ruang, dan membangun ekosistem yang suportif. Komunitas, jejaring profesional, hingga ruang digital menjadi wadah untuk saling tumbuh bersama. Karena pada akhirnya, kemajuan perempuan tidak bisa dicapai secara individual, tetapi melalui gerakan kolektif.
Menariknya, perempuan modern kini tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap bersanding. Bersaing berarti berani menunjukkan kapasitas terbaiknya di tengah kompetisi global. Sementara bersanding berarti hadir sebagai mitra yang setara—dalam keluarga, dunia kerja, maupun kehidupan sosial. Tidak ada lagi relasi yang timpang, melainkan hubungan yang saling menghargai dan menguatkan.
Editor : Arif Ardliyanto