Lima Pemuda Magelang Ciptakan Teknologi AI Pemantau Nutrisi
MAGELANG, iNewsSurabaya.id – Lima pemuda asal Magelang meluncurkan SIPAGI (Sistem Pemantauan Gizi Berbasis AI) bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2026.
Inovasi ini diharapkan menjadi solusi pemantauan gizi berbasis teknologi untuk mendukung program kesehatan nasional, termasuk penanganan stunting.
Kelima inisiator yang menyebut diri sebagai “Magelang Avengers” tersebut yakni, Aria Ganna Henryanto, dosen entrepreneurship di Universitas Ciputra dan alumnus FEB UGM; Marchel Adrian Shevchenko, pendiri Data Sorcerers sekaligus kandidat doktor di Massachusetts Institute of Technology (MIT); Yohanes Santoso, CEO Alesco Group; Muhammad Rezza, peneliti kebijakan publik di Merti Tidar Berdaya; serta James Santoso, wirausahawan muda di bidang kuliner.
Berangkat dari latar belakang yang beragam, mereka disatukan oleh visi untuk menghadirkan solusi atas persoalan publik melalui riset, teknologi, dan kemandirian bangsa.
SIPAGI diperkenalkan dalam ajang Sorcery Gathering #10 di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Aplikasi ini mampu mendeteksi dan menganalisis kandungan nutrisi makanan secara real-time melalui pemindaian kamera, serta terintegrasi dengan Data Komposisi Pangan Indonesia (TKPI).
“Magelang mungkin kota kecil, tetapi gagasan tidak mengenal batas geografis. Dari sini kami ingin menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja,” ujar Marchel Adrian Shevchenko, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, teknologi yang dikembangkan bukan sekadar inovasi digital, tetapi bentuk kontribusi nyata anak bangsa dalam menjawab tantangan publik berbasis kecerdasan buatan.
SIPAGI juga dirancang untuk mendukung kebijakan berbasis data, khususnya dalam upaya penanganan stunting.
Dengan analisis nutrisi yang cepat dan akurat, aplikasi ini berpotensi membantu pemerintah merancang intervensi yang lebih tepat sasaran dan efisien.
Sementara itu, Aria Ganna Henryanto menekankan bahwa peluncuran SIPAGI pada momentum Hardiknas membawa pesan penting tentang transformasi pendidikan.
“Pendidikan tidak lagi hanya soal transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan inovasi yang memberi solusi bagi persoalan bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, generasi muda Indonesia harus berani melangkah dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta dan inovator.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi global. Sudah saatnya kita menjadi kreator dan arsitek masa depan teknologi,” tegasnya.
Editor : Arif Ardliyanto