Teknologi AI di Laptop Makin Canggih, Adaptasi Konsumen Masih Jadi Tantangan
Di sektor pendinginan, Asus menyematkan sistem Asus ExpertCool Pro yang diklaim mampu menjaga stabilitas performa prosesor saat digunakan untuk pekerjaan berat. Kendati demikian, performa tinggi biasanya juga berbanding lurus dengan konsumsi daya dan harga perangkat yang lebih tinggi dibanding laptop bisnis konvensional.
Laptop ini juga dibekali grafis Intel Arc B390 terintegrasi untuk mendukung pengolahan visual, editing video, hingga komputasi AI. Sementara untuk memori, Asus menghadirkan RAM LPDDR5x hingga 64GB dan penyimpanan PCIe Gen5 SSD hingga 2TB.
Pada bagian layar, ExpertBook Ultra menggunakan panel sentuh 14 inci 3K Tandem OLED dengan refresh rate 120Hz serta tingkat kecerahan mencapai 1.400 nits HDR. Spesifikasi tersebut memang menawarkan kualitas visual premium, tetapi berpotensi membuat harga perangkat semakin tinggi di tengah daya beli pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Asus juga menyematkan fitur AI lokal melalui MyExpert AI yang terintegrasi dengan Microsoft Copilot+. Fitur ini memungkinkan transkripsi rapat, penerjemahan, hingga pencarian dokumen berbasis AI langsung di perangkat tanpa bergantung penuh pada layanan cloud.
Senior Partner Development Manager Commercial Device & Solution Sales Asia Microsoft, Lee Edgerton, menyebut pemrosesan AI lokal menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keamanan data perusahaan.
“Pemrosesan AI secara lokal membantu menghadirkan respons lebih cepat sekaligus menjaga data sensitif tetap aman di perangkat,” katanya.
Selain itu, Asus mengklaim baterai 70Wh pada ExpertBook Ultra mampu bertahan hingga 26 jam penggunaan. Laptop ini juga dilengkapi fitur fast charging dan keamanan enterprise seperti TPM 2.0, dual self-healing BIOS, sensor sidik jari, serta Windows Hello IR facial recognition.
Meski menawarkan teknologi mutakhir, tantangan terbesar laptop AI premium seperti ExpertBook Ultra tetap berada pada aspek harga, kebutuhan pasar, dan kesiapan pengguna dalam memanfaatkan fitur AI secara optimal di tengah kondisi ekonomi global yang masih belum stabil.
Editor : Arif Ardliyanto