Deteksi TBC Pakai Air Liur Mulai Diterapkan di Surabaya, Ini Hasilnya
Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari hingga Mei 2026, dari target penemuan 61.624 suspek TBC, sebanyak 44.088 orang telah menjalani pemeriksaan. Angka tersebut setara dengan 71,54 persen dari target yang ditetapkan.
Di sisi lain, program skrining juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sebanyak 644.201 penduduk telah menjalani skrining atau mencapai 45,78 persen dari target cakupan 50 persen populasi yang harus diperiksa.
Dari estimasi 11.412 kasus TBC yang diperkirakan terjadi sepanjang 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan. Rinciannya terdiri dari 4.078 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus TBC resistan obat (RO).
Saat ini, tercatat 4.166 pasien tengah menjalani pengobatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang tersebar di Surabaya.
Untuk kasus TBC sensitif obat, sebanyak 3.443 pasien atau 84,43 persen telah memulai terapi pengobatan. Sedangkan dari 113 kasus TBC resistan obat yang ditemukan, 90 pasien atau 79,65 persen sudah mendapatkan terapi.
Dinkes Surabaya juga mencatat tingkat keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) TBC sensitif obat mencapai 89,36 persen. Sementara angka kematian pasien selama menjalani pengobatan berada di level 1,80 persen.
Selain itu, upaya memutus rantai penularan terus diperkuat melalui investigasi kontak. Hingga Mei 2026, sebanyak 2.461 investigasi kontak telah dilakukan dan 2.729 warga memperoleh terapi pencegahan bagi kontak serumah.
Dr. Billy menilai capaian tersebut menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Bahkan, hingga Mei 2026, jumlah pemeriksaan yang dilakukan telah melampaui separuh target yang diberikan Kementerian Kesehatan RI.
"Sampai Mei kemarin, pemeriksaan sudah dilakukan terhadap lebih dari 50 persen target estimasi penemuan kasus yang diberikan Kementerian Kesehatan kepada Kota Surabaya," katanya.
Salah satu kegiatan tracing dan screening terbaru digelar di wilayah kerja Puskesmas Sawah Pulo, Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir. Dalam pelaksanaannya, Dinkes Surabaya menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dokter spesialis paru, hingga dokter residen.
"Kami melibatkan dokter spesialis paru, residen paru, dan tim medis dari FK Unair untuk mendukung kegiatan tersebut," ujar dr. Billy.
Menariknya, kegiatan ini juga memanfaatkan teknologi deteksi TBC terbaru yang dinilai lebih praktis dibanding metode konvensional.
Jika sebelumnya pemeriksaan TBC mengandalkan sampel dahak, kini tersedia alat yang memungkinkan deteksi menggunakan saliva atau air liur.
"Selama ini kendala utama adalah mendapatkan sampel dahak. Dengan teknologi baru ini, pemeriksaan dapat dilakukan hanya menggunakan air liur," ungkapnya.
Pengembangan metode tersebut bahkan mendapat dukungan dari tim ahli internasional yang berasal dari China dan Korea Selatan.
Dinkes Surabaya memastikan setiap pasien yang terdiagnosis TBC dapat segera memperoleh pengobatan. Ketersediaan obat dan paket terapi telah disiapkan di seluruh puskesmas untuk mempercepat penanganan.
"Begitu pasien terkonfirmasi setelah proses diagnosis selesai, pengobatan langsung diberikan. Paket terapi sudah tersedia di seluruh puskesmas," tegas dr. Billy.
Untuk memastikan pasien menjalani terapi hingga tuntas, Pemkot Surabaya juga mengerahkan Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas puskesmas, dan tim Dinkes untuk melakukan pendampingan secara berkala.
Mereka bertugas memantau kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat, mengingat durasi terapi TBC yang relatif panjang sering kali membuat pasien merasa jenuh dan berhenti berobat sebelum waktunya.
"Kami terus memberikan motivasi dan pendampingan agar pasien tetap disiplin menjalani pengobatan hingga selesai," katanya.
Berbagai langkah yang dilakukan Pemkot Surabaya diharapkan mampu mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2030.
Target tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis yang menargetkan angka kejadian TBC turun menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2030.
"Kami berharap target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dapat tercapai, sehingga cita-cita eliminasi TBC pada tahun 2030 benar-benar bisa terwujud," pungkas dr. Billy.
Editor : Arif Ardliyanto