BI Naikkan Suku Bunga, Pengembang Properti Optimistis Penjualan Tetap Stabil
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) di tengah meningkatnya ketidakpastian global tidak menyurutkan optimisme PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) terhadap kinerja penjualan properti sepanjang 2026.
Perseroan menilai permintaan dari segmen pembeli untuk kebutuhan hunian (end user) masih tetap kuat dan didukung suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang relatif terkendali.
Sebelumnya, Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa (9/6/2026) memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.
General Manager Finance Pakuwon Group, Fenny Loisa, mengatakan kondisi suku bunga KPR saat ini masih berada pada level yang cukup terjaga sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap minat beli konsumen.
"Kami melihat suku bunga KPR masih cukup terkendali. Karena itu, menurut kami tidak akan menjadi masalah terhadap penjualan properti," ujar Fenny dalam public expose usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Perseroan di Hotel Aloft Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Fenny, tren penjualan properti Pakuwon dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan stabilitas. Nilai penjualan tahunan masih berada di kisaran Rp1,3 triliun hingga Rp1,5 triliun dan diperkirakan tidak jauh berbeda pada tahun ini.
"Kalau dilihat dari penjualan tahun 2022 sampai 2025, kemudian 2026 juga tidak jauh berbeda. Penjualan kami memang berada di kisaran Rp1,3 triliun sampai Rp1,5 triliun. Demikian juga marketing sales kuartal pertama 2026 kurang lebih sama dengan periode yang sama tahun 2025," katanya.
Fenny menambahkan, sumber pendapatan utama Perseroan masih berasal dari bisnis pendapatan berulang (recurring income), terutama dari pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hotel.
"Proyeksi kami, recurring income tetap mendominasi dengan kontribusi sekitar 80 persen, sedangkan sekitar 20 persen berasal dari development revenue," ujarnya.
Optimisme tersebut sejalan dengan kinerja Perseroan yang tetap solid sepanjang 2025. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp13 per saham atau setara Rp626 miliar. Nilai tersebut setara 26,7 persen dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp2,35 triliun.
Direktur Keuangan dan Corporate Secretary Pakuwon Jati, Minarto Basuki, mengatakan pembagian dividen tersebut mencerminkan komitmen Perseroan untuk terus memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham.
Sepanjang 2025, Pakuwon membukukan pendapatan bersih sebesar Rp7,11 triliun dengan laba bruto Rp3,94 triliun, EBITDA Rp3,71 triliun, dan laba bersih yang disesuaikan sebesar Rp2,92 triliun.
Pertumbuhan kinerja tersebut terutama ditopang oleh segmen pendapatan berulang. Pendapatan pusat perbelanjaan meningkat 14 persen menjadi Rp3,93 triliun, sementara pendapatan hotel tumbuh 2 persen menjadi Rp1,42 triliun. Adapun pendapatan dari pengembangan properti relatif stabil di angka Rp1,49 triliun.
Pada kuartal I 2026, Perseroan kembali mencatatkan pertumbuhan positif dengan pendapatan mencapai Rp1,65 triliun atau naik 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. EBITDA meningkat 10 persen menjadi Rp916 miliar, sedangkan laba bersih melonjak 29 persen menjadi Rp511 miliar.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kebijakan menaikkan suku bunga tersebut merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah serta menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.
"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing ke Indonesia melalui peningkatan imbal hasil," ujar Denny dalam keterangan tertulisnya.
Editor : Arif Ardliyanto