Jarang Terjadi, SMP di Surabaya Ini Beri Waktu 20 Menit Khusus untuk Bahas Perkembangan Setiap Siswa
Suasana yang tercipta pun berbeda dari pembagian rapor pada umumnya. Diskusi dilakukan secara privat di dalam ruang kelas sehingga wali kelas, orang tua, dan siswa dapat berdialog tanpa gangguan. Sementara itu, area luar kelas disiapkan sebagai ruang tunggu bagi peserta lainnya.
Menurut Roto Kirono, penerimaan rapor seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan administratif untuk menerima hasil belajar, tetapi menjadi sarana refleksi bersama guna menentukan langkah pembinaan selanjutnya.
“Penerimaan rapor bukan sekadar mengambil hasil belajar, tetapi momentum refleksi dan evaluasi bersama. Karena itu, kami memberikan ruang dialog antara wali kelas, orang tua, dan siswa agar perkembangan anak dapat dipahami secara utuh, baik dari sisi akademik maupun pendidikan karakter,” katanya.
Ia menambahkan, keterlibatan siswa dalam proses diskusi menjadi bagian penting agar mereka mampu memahami potensi diri, mengenali tantangan yang dihadapi, serta menyusun target pembelajaran pada semester berikutnya.
“Anak-anak tidak hanya menerima nilai, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas proses belajarnya. Kami ingin ada komunikasi yang sehat antara sekolah, orang tua, dan siswa sehingga pembinaan bisa berjalan selaras,” tambahnya.
Melalui inovasi tersebut, SMP Wijaya Putra berharap budaya komunikasi antara sekolah dan keluarga semakin kuat. Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga mendukung tumbuh kembang karakter siswa secara menyeluruh.
Model penerimaan rapor berbasis dialog ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang lebih humanis, di mana setiap siswa memperoleh perhatian, pendampingan, dan evaluasi yang lebih personal.
Editor: Arif Ardliyanto