get app
inews
Aa Text
Read Next : Ratusan Mahasiswa Surabaya Adu Kreativitas Jadi Duta Literasi Keuangan Digital

Era Digital Mengubah Segalanya, Kampus Harus Mulai dari Penguatan SDM

Senin, 06 Juli 2026 | 08:13 WIB
header img
Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik dan Direktur Direktorat Umum dan Sumber Daya Manusia (DUSDM) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, Eddy Wahyudi, S.H., M.Si. Foto ist

EDDY WAHYUDI, S.H., M.Si., DOSEN PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK DAN DIREKTUR DIREKTORAT UMUM DAN SUMBER DAYA MANUSIA (DUSDM) YAYASAN PERGURUAN 17 AGUSTUS 1945 (YPTA) SURABAYA

Persaingan Perguruan Tinggi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh megahnya gedung, kelengkapan fasilitas, ataupun banyaknya program studi yang dimiliki. Di tengah percepatan transformasi digital dan kompetisi global, faktor yang paling menentukan keberhasilan sebuah perguruan tinggi justru terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Dosen dan tenaga kependidikan menjadi motor penggerak utama yang menentukan arah, mutu, sekaligus reputasi institusi pendidikan tinggi.

Perubahan dunia kerja yang berlangsung begitu cepat menuntut perguruan tinggi mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi. Tantangan tersebut tidak mungkin dijawab apabila pengelolaan sumber daya manusia masih dilakukan dengan pola konvensional. Karena itu, investasi terhadap pengembangan SDM harus dipandang sebagai strategi jangka panjang, bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif organisasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran pakar manajemen SDM, Yodhia Antariksa, yang menekankan bahwa organisasi unggul adalah organisasi yang mampu menyelaraskan strategi kelembagaan dengan strategi pengembangan manusia. Artinya, keberhasilan institusi tidak hanya diukur dari capaian organisasi, tetapi juga dari kemampuan setiap individu untuk berkembang dan memberikan kontribusi terbaiknya.

Dalam konteks perguruan tinggi, pengembangan SDM tidak cukup diwujudkan melalui pelatihan yang bersifat insidental. Dibutuhkan sistem yang berkesinambungan agar dosen maupun tenaga kependidikan terus meningkatkan kompetensi akademik, profesional, digital, hingga kemampuan kepemimpinan. Sertifikasi profesi, pelatihan teknologi informasi, peningkatan kapasitas riset, hingga penguatan kemampuan komunikasi menjadi investasi yang akan menghasilkan dampak besar terhadap kualitas layanan pendidikan.

Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu membangun sistem manajemen kinerja yang objektif dan terukur. Selama ini masih banyak institusi yang menilai kinerja berdasarkan rutinitas administratif semata. Padahal, setiap individu perlu memiliki target yang jelas dan selaras dengan visi besar institusi. Pendekatan Balanced Scorecard dan Key Performance Indicators (KPI) sebagaimana dikembangkan Yodhia Antariksa menjadi salah satu model yang relevan diterapkan karena mampu menghubungkan sasaran strategis organisasi dengan capaian kinerja individu secara terukur.

Penerapan indikator kinerja yang transparan bukan dimaksudkan untuk memberikan tekanan kepada pegawai, melainkan menciptakan budaya kerja yang sehat, akuntabel, dan berorientasi pada hasil. Dengan sistem tersebut, dosen akan terdorong meningkatkan kualitas pembelajaran, produktivitas penelitian, publikasi ilmiah, hingga pengabdian kepada masyarakat. Sementara tenaga kependidikan dapat memberikan pelayanan administrasi yang lebih cepat, profesional, dan berorientasi pada kepuasan mahasiswa.

Transformasi digital juga menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa dihindari. Pemanfaatan kecerdasan buatan, pembelajaran daring, analisis data, hingga digitalisasi layanan akademik menuntut seluruh SDM memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Oleh sebab itu, penguatan hard skills harus berjalan beriringan dengan pengembangan soft skills seperti kolaborasi, komunikasi, integritas, kemampuan memecahkan masalah, dan kepemimpinan.

Budaya organisasi pun memegang peranan penting. Perguruan tinggi yang berhasil umumnya mampu membangun lingkungan kerja yang mendorong inovasi, kolaborasi, saling menghargai, serta semangat belajar sepanjang hayat. Budaya seperti inilah yang akan melahirkan SDM tangguh dan siap menghadapi perubahan.

Pada akhirnya, masa depan perguruan tinggi sangat ditentukan oleh keberanian menjadikan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas utama. Kampus yang konsisten membangun budaya pembelajaran berkelanjutan, menerapkan sistem manajemen kinerja yang efektif, serta dipimpin oleh pemimpin yang visioner akan memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat nasional maupun global. Dari sanalah lahir lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut