Dai Tak Bisa Lagi Ceramah Seperti Dulu, Guru Besar UINSA Bongkar Cara Dakwah Baru di Masyarakat
Pembina Utama LDRA, KH. Syafii Idris, berharap takmir masjid di Surabaya dan sekitarnya terus memberikan dukungan kepada para anggota LDRA agar memperoleh kesempatan lebih luas mengisi khutbah maupun kegiatan dakwah.
Menurutnya, anggota LDRA berasal dari berbagai alumni pondok pesantren, baik di dalam maupun luar negeri, dengan bekal keilmuan yang siap memberikan pelayanan dakwah kepada masyarakat.
"Kami mengharapkan para takmir masjid terus memberikan dukungan dan semangat kepada LDRA. Dengan demikian, para anggota LDRA dapat berkontribusi mengisi khutbah dan kegiatan dakwah di masjid-masjid Surabaya," katanya.
Puncak peringatan Milad Ke-2 LDRA ditandai dengan peluncuran buku "Strategi Memakmurkan Masjid: Optimalisasi 5 Pilar Berbasis Pancasila" karya Ketua Umum LDRA, Prof. Dr. KH. Moh. Mukhrojin, M.Si.
Prof. Mukhrojin menjelaskan, bila pada Milad pertama LDRA menerbitkan buku tentang retorika dakwah bagi pemula, maka pada peringatan kedua fokus diperluas pada penguatan fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.
Ia menegaskan, masjid tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat melaksanakan salat semata.
"Masjid tidak hanya berfungsi sebagai Baitullah, tetapi juga harus dikembangkan menjadi Baitul Quran, Baitut Tarbiyah, Baitul Maal, dan Baitul Muamalah," ujarnya.
Konsep lima pilar tersebut menempatkan masjid sebagai pusat pendidikan Al-Qur'an, pembinaan umat, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, hingga ruang interaksi masyarakat.
Menurutnya, seluruh konsep tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila agar dakwah yang dibangun mampu menghadirkan Islam yang moderat, inklusif, serta memperkuat persatuan bangsa.
Kemeriahan Milad Ke-2 LDRA juga diwarnai pembagian buku karya Prof. Ali Azis berjudul "Dakwah Ramah Indonesia: Pedoman Pegiat dan Penceramah Agama" kepada peserta yang aktif dalam sesi diskusi, pengurus, dan anggota LDRA.
Melalui kegiatan ini, LDRA menegaskan komitmennya untuk terus mencetak dai yang adaptif terhadap perkembangan zaman, memperkuat jejaring dengan takmir masjid, sekaligus menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Editor: Arif Ardliyanto