Peternak Gresik Ubah Limbah Kambing Jadi Pupuk, Cara Warga Bikin Usaha Bernilai Ekonomi
GRESIK, iNewsSurabaya.id – Peternakan kambing di Dusun Bongso Wetan, Kabupaten Gresik, mulai beranjak dari pola pengelolaan konvensional menuju sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan. Teknologi tepat guna dan konsep ekonomi sirkular mulai diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan yang selama ini dihadapi peternak.
Langkah tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Kapasitas Peternak Kambing melalui Penerapan Ekonomi Sirkular dan Teknologi Tepat Guna di Dusun Bongso Wetan, Kabupaten Gresik.”
Program menyasar Griya Kambing milik Dodik Suprayogi yang berada di Dusun Bongso Wetan RT 23 RW 06, Kelurahan Pengalangan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Peternakan tersebut memiliki sekitar 50 ekor kambing dan selama ini fokus pada produksi kambing hidup.
Ketua Tim PKM, Desy Ismah Anggraini mengatakan, penguatan kapasitas peternak diperlukan karena usaha peternakan rakyat masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketersediaan pakan, pengelolaan limbah, pencatatan keuangan hingga pemasaran.
“Peternakan rakyat memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Karena itu, kami tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga mendorong perubahan pola pengelolaan usaha agar lebih efisien, memiliki nilai tambah, dan berkelanjutan,” kata Desy.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah ketergantungan terhadap hijauan segar sebagai pakan kambing. Persoalan ini semakin terasa ketika musim kemarau datang dan ketersediaan hijauan berpotensi menurun.
Melalui program tersebut, peternak diperkenalkan dengan teknologi pencacahan dan fermentasi pakan. Penggunaan teknologi diharapkan membuat proses penyediaan pakan lebih efisien sekaligus membantu peternak mengelola kebutuhan pakan secara lebih terencana.
Selain pakan, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah limbah kotoran ternak. Dari sekitar 50 ekor kambing, Griya Kambing menghasilkan kurang lebih 50 hingga 75 kilogram kotoran setiap hari.
Selama ini, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, kotoran ternak diarahkan untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, salah satunya pupuk organik.
Anggota Tim PKM, Fitryani, S.E., M.SEI., mengatakan limbah peternakan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan yang harus dibuang.
“Limbah peternakan jangan hanya dipandang sebagai masalah lingkungan. Jika dikelola dengan tepat, limbah tersebut dapat menjadi sumber daya dan menghasilkan produk baru yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Fitryani.
Menurut dia, pengolahan limbah secara teratur juga berpotensi memperbaiki sanitasi di sekitar kandang. Peternak mendapatkan pendampingan agar mampu mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik yang nantinya dapat dikemas dan dikembangkan sebagai produk diversifikasi usaha.
Tim PKM yang terdiri dari Desy Ismah Anggraini, S.E., M.A. sebagai ketua, serta Fitryani, S.E., M.SEI. dan Rosyida Fajri Rinanti, S.Pt., M.P. sebagai anggota, menerapkan pola pendampingan secara partisipatif.
Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, monitoring hingga evaluasi.
Sejumlah teknologi tepat guna diperkenalkan kepada peternak, seperti mesin pencacah rumput, mesin pencacah kompos, tong komposter, mesin jahit karung serta berbagai sarana pendukung pengolahan limbah.
Namun, penguatan peternakan tidak berhenti pada penyediaan peralatan. Tim juga memberikan perhatian terhadap aspek manajemen usaha.
Peternak mulai diarahkan melakukan pencatatan keuangan sederhana untuk mengetahui biaya produksi, pemasukan dan keuntungan usaha. Sebelumnya, keuangan peternakan masih bercampur dengan keuangan rumah tangga sehingga perkembangan usaha sulit dihitung secara akurat.
Tim PKM juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mencakup budidaya, sanitasi kandang hingga pengelolaan limbah.
Dengan SOP tersebut, pengelolaan peternakan diharapkan tidak hanya bergantung pada kebiasaan dan pengalaman pemilik, tetapi memiliki standar kerja yang lebih jelas dan terukur.
Peternak Didorong Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak
Dari sisi pemasaran, program pemberdayaan ini juga mendorong diversifikasi produk.
Selama ini, pemasaran kambing masih banyak mengandalkan tengkulak atau pedagang perantara. Kondisi tersebut membuat ruang gerak peternak dalam menentukan harga menjadi lebih terbatas.
Pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk organik diharapkan membuka sumber pendapatan baru. Dengan demikian, usaha tidak hanya mengandalkan penjualan kambing hidup.
Desy menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah peralatan yang diberikan kepada mitra.
“Target kami bukan sekadar memberikan alat, kemudian kegiatan selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana mitra mampu menggunakan teknologi tersebut, mengelola usaha dengan pencatatan yang lebih baik, serta memanfaatkan limbah menjadi produk yang bernilai,” jelasnya.
Konsep ekonomi sirkular yang diterapkan di Griya Kambing pada akhirnya diarahkan untuk menghubungkan seluruh mata rantai usaha, mulai dari produksi ternak, penyediaan pakan, pengolahan limbah hingga pengembangan produk turunan.
Model tersebut diharapkan dapat membantu peternak meningkatkan efisiensi pakan, mengurangi persoalan limbah, memperoleh sumber pendapatan tambahan dan memperkuat keberlanjutan usaha peternakan kambing di tingkat masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto