Dari Perwira Pelayaran ke Puncak PBNU, Begini Sepak Terjang Gus Kikin Sebelum Dipilih 9 Kiai Sepuh
Gus Kikin, Putra Keluarga Pesantren
KH Abdul Hakim Mahfudz lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.
Darah pesantren mengalir kuat dalam dirinya. Dari jalur sang ibu, Gus Kikin memiliki hubungan keluarga dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Ibunya, Nyai Hj Abidah Ma’shum, merupakan putri Nyai Hj Khoiriyah Hasyim. Sementara Nyai Khoiriyah merupakan putri KH Hasyim Asy’ari.
Latar belakang tersebut membuat Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren dan tradisi keilmuan NU sejak usia muda.
Namun, perjalanan pendidikannya tidak hanya berkutat pada pendidikan keagamaan.
Ia mengenyam pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Parimono, Jombang, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Jombang dan SMA Negeri 2 Jombang.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Gus Kikin memilih menempuh pendidikan maritim di Jakarta. Ia tercatat sebagai lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan kemudian melanjutkan pendidikan formal di Universitas Terbuka.
Pengalaman tersebut membuat perjalanan hidupnya cukup berbeda. Sebelum aktif mengelola pesantren dan organisasi NU, Gus Kikin lebih dahulu bersentuhan dengan dunia profesional dan korporasi.
Pernah Berkarier di Dunia Maritim
Gus Kikin pernah bekerja sebagai perwira pelayaran komersial. Pengalamannya kemudian berkembang ke bidang manajerial dan bisnis.
Ia pernah dipercaya sebagai Kepala Cabang Wilayah Cilegon PT Djakarta Lloyd. Selain sektor pelayaran, pengalaman profesionalnya juga mencakup bidang maritim, logistik, kontraktor migas, teknologi informasi hingga media massa.
Bekal tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinannya ketika kembali lebih aktif di lingkungan pesantren.
Pada 2016, Gus Kikin mulai mengabdikan diri di Pesantren Tebuireng dengan mendampingi KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai Wakil Pengasuh.
Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, Gus Kikin dipercaya meneruskan kepemimpinan pesantren.
Di Tebuireng, ia mengembangkan sejumlah program yang memadukan tradisi pesantren dengan pendekatan kelembagaan modern. Salah satunya melalui penguatan kajian kitab kuning sekaligus pendirian Tebuireng Institute for Islamic Studies.
Lembaga tersebut diarahkan untuk mengkaji dan mendokumentasikan pemikiran KH Hasyim Asy’ari agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Dari PWNU Jatim ke PBNU
Pengalaman organisasi Gus Kikin kemudian berkembang di tingkat wilayah. Pada Konferwil NU Jawa Timur, 3 Agustus 2024, ia dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.
Kepemimpinannya di tingkat wilayah menjadi salah satu bekal sebelum akhirnya dipercaya menduduki posisi tertinggi di jajaran Tanfidziyah PBNU.
Selama berada di PWNU Jawa Timur, Gus Kikin mendorong pembenahan tata kelola organisasi, administrasi serta penguatan kemandirian ekonomi.
Pengalaman mengelola pesantren, organisasi dan dunia usaha tersebut menjadi modal yang melekat pada sosoknya ketika nama Gus Kikin masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Kini, hasil musyawarah sembilan anggota AHWA memastikan perjalanan tersebut berlanjut ke tingkat nasional.
Duet dengan Rais Aam KH Miftachul Akhyar
Penetapan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031 melengkapi susunan kepemimpinan organisasi bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Duet Rais Aam dan Ketua Umum PBNU tersebut akan menghadapi tantangan besar dalam mengelola organisasi dengan struktur kepengurusan yang luas hingga tingkat ranting.
Para kiai sepuh anggota AHWA dalam proses pengambilan keputusan juga mengedepankan pentingnya kebersamaan dan menjaga marwah jamiyyah.
Karena itu, setelah keputusan penetapan Ketua Umum PBNU diumumkan, perhatian berikutnya akan tertuju pada penyusunan kepengurusan dan program kerja PBNU periode 2026-2031.
Bagi Nahdliyin, terpilihnya Gus Kikin bukan sekadar pergantian figur di pucuk organisasi. Keputusan tersebut menjadi awal dari periode baru PBNU dengan tantangan untuk memperkuat tata kelola, menjaga tradisi keilmuan pesantren, sekaligus menjawab persoalan umat yang terus berkembang.
Muktamar ke-35 NU di Tambakberas pun mencatatkan satu keputusan penting: Gus Kikin dipercaya menjadi nahkoda baru Tanfidziyah PBNU melalui musyawarah sembilan ulama sepuh AHWA.
Editor: Arif Ardliyanto