Bikin Malaysia Terpukau, Tari Piring dan Langen Puspitasari Bawa Pesan Perdamaian dari Indonesia
Penang Peace Dialogue sendiri mempertemukan berbagai kalangan dari sejumlah negara. Para pakar, pemimpin institusi publik dan swasta, seniman, penampil, hingga penggerak perdamaian hadir untuk bertukar gagasan mengenai upaya menciptakan dunia yang lebih damai dan saling terhubung.
Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, juga turut berbicara dalam dialog tersebut. Ia hadir sebagai salah satu penggerak perdamaian dan ikut terlibat dalam rangkaian diskusi.
Di tengah situasi global yang diwarnai ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, dan berbagai persoalan sosial, seni dinilai memiliki ruang penting untuk mempertemukan manusia.
Bagi AntarSukha, konsep “Art for Peace” menjadi gambaran bahwa budaya dapat digunakan untuk membuka ruang dialog tanpa harus dibatasi perbedaan bahasa, negara, maupun latar belakang.
Tari Piring dan Tari Langen Puspitasari pun tidak hanya membawa unsur estetika. Di balik gerakan dan pertunjukannya, terdapat identitas budaya yang menjadi bagian dari kekayaan Indonesia.
“Seni menyatukan kita. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan yang terus diberikan; tidak hanya hari ini, tetapi juga sepanjang perjalanan ini ke depan,” kata Emira.
Penampilan di Penang menjadi salah satu langkah AntarSukha dalam memperkuat misi membawa seni tradisional Indonesia ke tingkat global.
Dari panggung budaya di Malaysia, pesan yang ingin disampaikan pun sederhana: seni dapat menjadi ruang perjumpaan, budaya bisa menjadi jembatan, dan sebuah pertunjukan dapat membuka percakapan yang lebih luas tentang perdamaian.
Ke depan, AntarSukha berkomitmen untuk terus memperkenalkan tarian tradisional Indonesia ke berbagai panggung dunia, sekaligus menjadikan kekayaan budaya Nusantara sebagai bagian dari percakapan global.
Editor : Arif Ardliyanto