Pasuruan Diserbu Investor Asing, Industri Lama Dihadapkan Beban Pajak Air Tanah 1.600 Persen
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kabupaten Pasuruan menunjukkan daya tarik yang semakin kuat bagi investor asing. Pada semester I 2026, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di wilayah tersebut mencapai Rp5,5 triliun, sedikit melampaui Kabupaten Gresik yang mencatat Rp5,4 triliun.
Namun, di balik capaian tersebut, dunia usaha masih menghadapi sejumlah persoalan yang dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan investasi. Salah satunya berkaitan dengan kepastian usaha bagi industri yang telah beroperasi selama puluhan tahun di Kabupaten Pasuruan.
Kondisi itu menjadi perhatian Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Timur, Eddy Widjanarko. Ia menyampaikan pandangannya saat menghadiri Ground Breaking pembangunan Mako Kompi 2 Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Jatim.
Menurut Eddy, capaian investasi Jawa Timur perlu diimbangi dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif. Pemerintah dinilai tidak hanya perlu mengejar investasi baru, tetapi juga memastikan industri yang sudah beroperasi tetap memiliki kepastian dalam menjalankan usahanya.
“Kami mengapresiasi langkah DPMPTSP Jatim yang terus memperkuat upaya peningkatan investasi melalui tata kelola perizinan yang lebih ringkas, khususnya dengan mengacu pada PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko,” ujar Eddy Widjanarko.
Sorotan tersebut muncul di tengah perlambatan ekonomi Jawa Timur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 berada di angka 5,72 persen secara tahunan atau year-on-year (y-o-y).
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,96 persen. Meski masih berada di zona positif, perlambatan ini dinilai perlu menjadi perhatian agar aktivitas sektor riil tetap terjaga.
Tekanan juga terlihat pada realisasi investasi Jawa Timur. Sepanjang semester I 2026, investasi tercatat Rp72,7 triliun atau turun 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp74,7 triliun.
Penurunan terjadi baik pada PMDN maupun PMA. Realisasi PMDN terkontraksi 2,4 persen, sedangkan PMA turun 3,2 persen secara tahunan.
Editor: Arif Ardliyanto