Tasya Farasya Ungkap Sulit Rileks dan Overthinking, Dokter Jelaskan Cara Kerja Hipnoterapi
JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Pengusaha Tasya Farasya mengungkap pengalaman pribadinya terkait kesulitan rileks, overthinking, hingga gangguan tidur.
Bagi Tasya, situasi yang seharusnya membuat tubuh tenang justru dapat memicu rasa tidak nyaman ketika dirinya merasa kehilangan kontrol.
Hal tersebut disampaikan Tasya saat berbincang dengan dr. Yuliana, CHt®, dokter sekaligus clinical hypnotherapist, dalam TALKSYA Episode 28.
Tasya mengaku kesulitan untuk benar-benar santai ketika harus diam dan tidak melakukan apa pun. Bahkan, aktivitas seperti pijat yang umumnya dianggap sebagai cara untuk relaksasi justru membuatnya tidak nyaman.
“Bahkan aku dipijit aja gak bisa, Dok. Kalau misalnya ke tempat pijit, terus aku diem, orang mijitin aku dan aku gak punya kontrol untuk melakukan sesuatu, aku gak bisa,” kata Tasya, Rabu (7/10/2026).
Pengalaman serupa terjadi ketika Tasya menjalani pemeriksaan yang mengharuskannya menutup mata dan diam selama sekitar 10 menit. “Aku langsung ngerasa kayak anxiety banget selama 10 menit itu,” ujarnya.
Menurut Tasya, rasa tidak nyaman tersebut muncul karena ia merasa tidak memiliki kendali penuh atas situasi yang sedang dihadapi.
Kesulitan rileks yang dirasakan Tasya juga berkaitan dengan kebiasaannya mengalami overthinking, terutama pada malam hari. Ketika aktivitas harian mulai berhenti dan suasana menjadi lebih tenang, pikirannya justru terasa semakin aktif.
“Oke kalau overthinking kenapa ada orang yang pikirannya enggak bisa dimatiin kayak saya, Dok? Otaknya muter terus, apalagi malam hari. Akarnya tuh dari mana sih, Dok?” tanya Tasya.
Dr. Yuliana menjelaskan bahwa malam hari biasanya memiliki lebih sedikit aktivitas dan gangguan dari luar. Kondisi tersebut dapat membuat berbagai hal yang sebelumnya tidak sempat dipikirkan kembali muncul ketika suasana menjadi hening.
“Malam hari ini lagi tenang, lagi hening, wah kepikir semua tuh,” jelas dr. Yuliana. Tasya pun menggambarkan pikirannya seperti terus berputar tanpa berhenti. “Terus aja muter, enggak ada remnya,” katanya.
Kondisi tidur juga pernah menjadi persoalan bagi Tasya. Ia mengungkapkan pernah menjalani pemeriksaan tidur ketika masalah tidurnya sedang berat.
“Hasil cek tidurnya cuma tidur 5 jam, Dok. Dan dalam 5 jam itu kebangun 4 kali, dan hasilnya deep sleep-nya cuma 3 menit dari 5 jam. Jadi waktu itu emang separah itu insomnia aku,” ungkapnya.
Pembahasan mengenai kesulitan rileks dan overthinking kemudian membawa Tasya pada topik hipnoterapi. Pertanyaan Tasya cukup mendasar: apakah seseorang akan tertidur, tidak sadar, atau kehilangan kendali ketika menjalani hipnoterapi?
Dr. Yuliana meluruskan anggapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa hipnosis bukan kondisi ketika pasien kehilangan kesadaran. “Hipnosis itu adalah keadaan di mana pasien ini bukannya hilang kesadaran, tapi dia hanya rileks,” jelasnya.
Menurut penjelasan dr. Yuliana dalam percakapan tersebut, kondisi hipnosis membuat tubuh lebih rileks sementara fokus pikiran dapat meningkat. Pasien tetap dapat mendengar dan berkomunikasi selama proses berlangsung.
Pasien juga tetap memiliki kemampuan untuk menolak sugesti yang tidak sesuai dengan prinsip atau keinginannya.
Penjelasan tersebut menjadi penting bagi Tasya karena sejak awal ia mengaku memiliki kesulitan ketika harus melepaskan kontrol. Lantas, apa yang sebenarnya dilakukan dalam clinical hypnotherapy?
Dr. Yuliana menjelaskan bahwa proses tersebut tetap dilakukan melalui komunikasi antara terapis dan pasien. Pengalaman emosional yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi dapat ditelusuri untuk memahami perasaan, pemaknaan, serta pengalaman yang masih terbawa hingga saat ini.
Dalam contoh yang disampaikan, seseorang dapat diajak melihat kembali pengalaman masa lalu, termasuk bagaimana dirinya memahami sebuah peristiwa ketika masih kecil.
Menurut dr. Yuliana, pemahaman dari sudut pandang masa kecil tersebut kemudian dapat diproses menggunakan perspektif dan kebijaksanaan yang dimiliki seseorang ketika sudah dewasa.
Tujuannya bukan menghapus kejadian atau memori yang pernah dialami. Proses resolusi lebih diarahkan untuk membantu seseorang membentuk pemahaman atau cara pandang baru terhadap pengalaman tersebut.
Dengan perubahan cara pandang, pengalaman yang sama diharapkan tidak lagi membawa muatan emosi negatif yang terus mengganggu kehidupan saat ini.
Tasya kemudian memastikan bahwa pasien dan terapis tetap berkomunikasi selama proses berlangsung. Jawaban tersebut membuat rasa penasaran Tasya terhadap hipnoterapi semakin besar.
Jika sebelumnya ia mengaitkan kondisi rileks dengan kehilangan kontrol, penjelasan mengenai proses hipnoterapi justru membuatnya tertarik. “Buat kalian yang jadi tertarik ingin hipnoterapi seperti aku,” kata Tasya.
Percakapan Tasya Farasya dan dr. Yuliana tersebut memperlihatkan bahwa salah satu kekhawatiran yang sering muncul tentang hipnoterapi adalah anggapan bahwa pasien akan kehilangan kesadaran atau kendali.
Dalam penjelasan dr. Yuliana, pasien tetap sadar, dapat berkomunikasi, dan terlibat dalam proses untuk memahami pengalaman serta emosi yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi.
Editor: Arif Ardliyanto