Manajemen Waktu Lemah dan Distraksi Tinggi
Penyebab ketiga adalah minimnya manajemen waktu yang diperparah oleh distraksi dari gadget dan media sosial. Banyak mahasiswa terjebak dalam pola menunda-nunda lalu lembur.
"Distraksi membuat mereka sulit memulai tugas. Akhirnya tugas menumpuk, dan pilihan satu-satunya adalah begadang. Ketika pola ini terulang beberapa minggu berturut-turut, tubuh kehilangan ritmenya. Bangun siang, makan tidak teratur, energi cepat habis, lalu makin sulit fokus. Jadilah lingkaran yang sulit diputus," jelas Farah.
Ia menawarkan beberapa solusi, di antaranya membuat perencanaan harian yang sangat sederhana dengan tiga tugas utama saja, menyusun prioritas berdasarkan urgensi, dan menggunakan teknik Pomodoro agar otak tidak cepat jenuh.
Tekanan Mental yang Terabaikan
Masalah terakhir adalah tekanan emosional dan mental yang jarang diperhatikan. Farah menyebutkan, banyak mahasiswa menghadapi tekanan besar seperti takut nilai buruk, takut mengecewakan orang tua, takut tidak kompeten, hingga merasa tertinggal dari teman lain.
"Tekanan ini memicu stres berkepanjangan yang kemudian memengaruhi pola tidur, selera makan, dan motivasi. Masalahnya, tidak semua kampus menyediakan dukungan kesehatan mental yang memadai. Banyak mahasiswa akhirnya menyimpan stres sendiri hingga tubuh menunjukkan gejala: sering sakit, mudah pusing, gampang marah, bahkan kehilangan semangat belajar," ungkapnya.
Farah mengusulkan agar kampus kesehatan mengintegrasikan konseling atau edukasi kesehatan mental, mengajarkan keterampilan coping seperti mindfulness, journaling, dan relaksasi napas. Mahasiswa juga perlu membiasakan diri membuka percakapan tentang stres dan kelelahan dengan teman agar tidak merasa sendirian.
Farah menegaskan, mahasiswa kesehatan bukan robot yang bisa selalu hidup ideal. Masa kuliah adalah masa belajar, termasuk belajar menjaga diri sendiri.
"Yang penting bukan menjadi mahasiswa yang selalu hidup sehat, tetapi menjadi mahasiswa yang ingin hidup lebih sehat, sedikit demi sedikit. Bagaimana kita bisa membantu orang lain menjaga kesehatannya kelak, jika kita sendiri tidak memberi kesempatan tubuh kita untuk dipulihkan?" tanyanya.
Farah mendorong mahasiswa memulai dari langkah kecil: makan tepat waktu, tidur cukup, dan berhenti membanggakan lelah. Dengan demikian, kesehatan bisa kembali menjadi prioritas, bukan sekadar pelajaran teori.
Penulis:
Farah Dina Azizatul Aulia (Mahasiswa Keperawatan UNAIR
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
