MANADO, iNewsSurabaya.id – Misi Dagang dan Investasi Provinsi Jawa Timur (Jatim) dengan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang dipimpin langsung Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak berhasil membukukan komitmen transaksi senilai Rp1,8 triliun.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu capaian terbesar dalam pelaksanaan misi dagang antardaerah yang digagas Pemprov Jatim.
Emil mengatakan, nilai transaksi tersebut terdiri atas komitmen penjualan dari Jatim sebesar Rp1,697 triliun dan pembelian dari Sulut senilai Rp189,99 miliar.
“Alhamdulillah total komitmen transaksi hari ini mencapai Rp1,887 triliun. Ini menunjukkan hubungan perdagangan antara Jatim dan Sulut berlangsung saling menguntungkan dan terus berkembang,” kata Emil, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kedua daerah memiliki potensi besar untuk saling melengkapi kebutuhan ekonomi masing-masing. Ia menegaskan konsep kerja sama yang dibangun bukan semata transaksi jual beli, melainkan kemitraan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Komoditas yang diperdagangkan dari Jatim ke Sulut antara lain daging sapi dan ayam, pakan ikan dan udang, susu, karkas ayam dan bebek, rokok, produk batik, jagung, serta alat dan mesin pertanian. Sementara komoditas yang dibeli Jatim dari Sulut meliputi ikan tuna, cengkeh, arang batok kelapa, ikan tongkol, ikan cakalang, ikan layang, hingga berbagai produk kerajinan.
Emil menjelaskan hubungan perdagangan kedua provinsi terus mengalami peningkatan sejak pelaksanaan misi dagang pertama di Manado pada 2022. Saat itu nilai transaksi tercatat sebesar Rp158,98 miliar.
“Selama empat tahun terakhir banyak kedekatan dan sinergi yang terbangun. Karena itu peningkatan transaksi yang terjadi saat ini menunjukkan hubungan ekonomi kedua daerah semakin kuat,” ujarnya.
Berdasarkan data perdagangan tahun 2024, total nilai perdagangan antara Jatim dan Sulut mencapai Rp1,44 triliun. Jatim mencatat surplus perdagangan sebesar Rp581,72 miliar dengan nilai penjualan mencapai Rp1,01 triliun dan pembelian sebesar Rp428,39 miliar.
Emil menambahkan, misi dagang kali ini diikuti 58 pelaku usaha dari Jatim. Kehadiran mereka tidak hanya untuk menjual produk, tetapi juga menjalin kerja sama dan membeli komoditas unggulan dari Sulut.
“Kami percaya fondasi ekonomi yang kuat dibangun melalui hubungan dagang yang saling menguntungkan. Karena itu kami ingin memastikan kerja sama ini mampu memperkuat perekonomian kedua wilayah,” katanya.
Ia juga menyoroti posisi strategis Sulut yang didukung keberadaan Pelabuhan Bitung sebagai salah satu pintu gerbang perdagangan di kawasan Pasifik. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan investasi dan perdagangan dengan Jatim.
Di sisi lain, Emil menyebut kinerja ekonomi Jatim yang terus tumbuh positif menjadi modal penting dalam memperluas kerja sama perdagangan. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jatim tumbuh 5,96 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
