NGANJUK, iNewsSurabaya.id – Bunga mawar selama ini menjadi salah satu komoditas pertanian yang menopang aktivitas warga Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Namun, hasil panen yang melimpah sebagian besar masih dijual dalam bentuk bunga segar kepada tengkulak.
Kondisi tersebut mendorong dosen Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri (IIK Bhakti Wiyata Kediri) mengajak petani Desa Ngliman melihat peluang lain dari bunga mawar. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), para petani mendapatkan pelatihan untuk mengolah bunga mawar menjadi sejumlah produk yang memiliki nilai tambah.
Bukan sekadar bunga segar, mawar dari Desa Ngliman dikembangkan menjadi sari mawar, air mawar, sabun mawar hingga lilin aromaterapi.
Petani Nganjuk mulai mengolah bunga mawar menjadi sari mawar, sabun hingga lilin aromaterapi. Produk ini dibidik sebagai oleh-oleh wisata Sedudo. Foto iNewsSurabaya.id/ist
Langkah ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani ketika harga bunga segar berfluktuasi sekaligus memperpanjang masa pemanfaatan hasil panen.
Desa Ngliman berada di kawasan lereng Gunung Wilis. Kondisi dataran tinggi di wilayah tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung budidaya tanaman hortikultura, termasuk bunga mawar.
Ketersediaan bunga yang relatif melimpah sepanjang tahun sebenarnya membuka peluang ekonomi yang lebih besar. Persoalannya, bunga mawar segar memiliki daya simpan terbatas sehingga hasil panen harus segera terserap pasar.
Harga jualnya pun tidak selalu stabil. Berdasarkan wawancara tim PKM dengan petani, harga bunga mawar dalam kondisi normal berada di kisaran Rp4.000 per kilogram. Namun, menjelang Idul Fitri, harganya bisa melonjak hingga sekitar Rp90.000 per kilogram.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
