Harga Mawar Nganjuk Tembus Rp90 Ribu per Kilogram, Ini Teknologi Modern yang Dipakai Petani

Arif Ardliyanto
Petani Nganjuk mulai mengolah bunga mawar menjadi sari mawar, sabun hingga lilin aromaterapi. Produk ini dibidik sebagai oleh-oleh wisata Sedudo. Foto iNewsSurabaya.id/ist

Fluktuasi tersebut membuat pendapatan petani sangat bergantung pada momentum dan kondisi pasar. Karena itu, pengolahan bunga mawar menjadi produk turunan dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

“Potensi mawar di Desa Ngliman sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana hasil panen yang melimpah tidak hanya berhenti sebagai bunga segar, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan masa simpan lebih panjang,” ujar Ketua Tim PKM, Nadia Pramasari.

Tim pelaksana kegiatan terdiri dari tiga dosen IIK Bhakti Wiyata Kediri, yakni apt. Nadia Pramasari, S.Farm., M.Pharm., apt. Rachma Nurhayati, S.Farm., M.Farm., dan Bd. Herdian Fitria Widyanto Putri, S.Keb., M.Keb.

Petani Tak Hanya Diajak Membuat Produk

Pendampingan yang diberikan kepada petani tidak berhenti pada teknik pengolahan bunga mawar. Mereka juga diperkenalkan dengan berbagai aspek yang dibutuhkan agar produk bisa dikembangkan secara lebih serius.

Materi pendampingan mencakup pengemasan, pembuatan label, pemasaran melalui media sosial dan e-commerce, hingga pendampingan pengajuan perizinan sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah seorang petani peserta, Trianti, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari program tersebut.

“Selama ini hasil panen mawar kami langsung dijual kepada tengkulak dalam bentuk bunga segar, sehingga kami belum banyak memiliki pilihan untuk mengolah hasil panen menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini sangat bermanfaat bagi kami karena kami mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah bunga mawar sekaligus belajar bagaimana memasarkannya,” ujarnya.

Menurut Trianti, pengembangan produk berbahan dasar mawar juga berpotensi membuka peluang baru bagi petani di Desa Ngliman.

Ia berharap produk tersebut nantinya tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sektor pariwisata di kawasan Sedudo.

“Kami berharap produk olahan mawar ini dapat membantu meningkatkan pendapatan petani dan ke depannya bisa menjadi salah satu pilihan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Sedudo,” katanya.

Teknologi Pengolahan Mawar Mulai Diperkenalkan

Dalam kegiatan tersebut, tim PKM juga mengenalkan pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses produksi. Penggunaan teknologi diarahkan agar proses pengolahan menjadi lebih efisien, higienis, sekaligus memiliki ukuran dan hasil yang lebih terukur.

Teknologi diterapkan dalam sejumlah tahapan produksi, seperti pengisian produk cair, proses distilasi untuk menghasilkan air mawar, hingga pencampuran bahan dalam pembuatan sabun dan lilin aromaterapi.

Pendekatan tersebut diharapkan membantu petani meningkatkan kualitas produk sehingga tidak hanya menarik dari sisi kemasan, tetapi juga memiliki proses produksi yang lebih baik.

Bidik Wisatawan di Kawasan Air Terjun Sedudo

Potensi pasar wisata menjadi salah satu peluang yang turut diperhatikan dalam program ini. Tim PKM menjalin kerja sama dengan mitra pemasaran, termasuk penginapan yang berada di sekitar kawasan wisata Air Terjun Sedudo, Nganjuk.

Langkah tersebut membuka kemungkinan produk olahan mawar Desa Ngliman dipasarkan kepada wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.

Jika dikembangkan secara konsisten, produk berbahan dasar mawar berpotensi menjadi oleh-oleh khas yang mengangkat identitas Desa Ngliman.

Pengembangan ini juga mempertemukan tiga potensi sekaligus, yakni pertanian, kewirausahaan, dan pariwisata.

Bunga mawar yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan sebagai komoditas segar kini mulai diarahkan menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi yang lebih panjang.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan dukungan dana hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyaraka

 

Editor : Arif Ardliyanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network