AI Makin Canggih, Guru Tak Boleh Lakukan Kesalahan Ini di Ruang Kelas

Hendro Djatmiko
AI mampu membantu guru menyusun modul ajar lebih cepat. Workshop pendidikan di Surabaya menyoroti pentingnya kompetensi guru, literasi digital, dan karakter siswa di era kecerdasan buatan. Foto iNewsSurabaya.id/hendro

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mampu membantu guru menyusun modul ajar dan rencana pembelajaran dalam waktu singkat. Namun, kemudahan teknologi ini menyimpan tantangan tersendiri. Guru tidak boleh sekadar mengandalkan mesin hingga melupakan peran utama mereka dalam memahami karakter dan membimbing peserta didik.

Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Pendidikan Program Prioritas bertema Transformasi Digital Pendidikan di Era AI: Membangun Pembelajaran Cerdas, Kreatif dan Adaptif di Premiere Ballroom Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya. 

Kegiatan ini diselenggarakan Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah bersama Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno. Workshop tersebut membahas pentingnya menyiapkan dunia pendidikan menghadapi perkembangan teknologi tanpa mengabaikan kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter siswa.


AI mampu membantu guru menyusun modul ajar lebih cepat. Workshop pendidikan di Surabaya menyoroti pentingnya kompetensi guru, literasi digital, dan karakter siswa di era kecerdasan buatan. Foto iNewsSurabaya.id/hendro

Perwakilan Direktorat Sekolah Dasar, Dr. Suhadi, S.Pd., M.T., menegaskan bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi persaingan global.

“Pendidikan Indonesia dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berkarakter, dan memiliki daya saing regional maupun internasional,” ujar Suhadi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar memasukkan perangkat teknologi ke ruang kelas. Pemanfaatannya harus memberikan dampak nyata terhadap proses belajar, mulai dari meningkatkan kreativitas hingga membangun kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Ketua Tim Kerja Kurikulum Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Atiko, S.S., M.M., menilai perkembangan AI perlu diimbangi dengan penguatan kompetensi guru. Teknologi memang dapat mempercepat pekerjaan administratif, tetapi kualitas pembelajaran tetap bergantung pada kemampuan pendidik memahami kebutuhan siswa.

Menurut Atiko, guru perlu memastikan setiap materi yang dihasilkan AI sesuai dengan kondisi kelas, tingkat pemahaman siswa, serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Modul ajar atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat menggunakan AI tidak bisa langsung diterapkan tanpa pemeriksaan. Guru tetap harus mengevaluasi isi, menyesuaikan metode, dan memastikan materi relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Sebab, setiap siswa memiliki karakter, kemampuan, dan kesulitan belajar yang berbeda. Kondisi tersebut membutuhkan penilaian langsung dari guru, bukan semata-mata rekomendasi teknologi.

Pembelajaran juga tidak berhenti pada penyampaian materi. Guru memiliki tanggung jawab membangun kepercayaan diri, menumbuhkan motivasi, serta membentuk karakter siswa. Aspek inilah yang tidak cukup diselesaikan hanya dengan kecanggihan aplikasi.

Selain kemampuan guru memanfaatkan AI, penguatan literasi siswa juga menjadi perhatian. Terlebih, Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai berlangsung pada 2026 sehingga proses pembelajaran perlu terus diarahkan untuk memperkuat pemahaman materi dan kemampuan akademik peserta didik.

Teknologi dapat digunakan untuk menghadirkan metode belajar yang lebih bervariasi. Namun, penggunaannya perlu disertai evaluasi agar siswa tidak hanya terbiasa memperoleh jawaban secara instan, tetapi juga memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut.

Tantangan lain datang dari media sosial. Arus informasi yang bergerak cepat membuat kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting, baik bagi guru maupun siswa.

Atiko menekankan perlunya penggunaan media sosial secara bijak agar teknologi digital dapat mendukung kegiatan pendidikan. Guru juga diharapkan menjadi contoh dalam memanfaatkan platform digital untuk berbagi pengetahuan dan mengakses informasi yang bermanfaat.

Literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi. Siswa perlu dibimbing untuk memeriksa kebenaran informasi, berpikir kritis, serta memahami tanggung jawab ketika beraktivitas di ruang digital.

Peluang transformasi digital juga didukung perangkat pembelajaran yang disediakan pemerintah, termasuk Papan Interaktif Digital (PID) Merah Putih dan sumber belajar melalui platform Rumah Pendidikan.

Kedua fasilitas tersebut dapat membantu guru menyampaikan materi dengan pendekatan visual dan interaktif. Konsep yang sulit dipahami melalui penjelasan lisan bisa diperjelas menggunakan ilustrasi, simulasi, maupun tampilan visual.

Dalam pelajaran IPA dan matematika, misalnya, visualisasi dapat membantu siswa memahami konsep abstrak secara lebih konkret. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga dapat mengamati materi melalui tampilan yang lebih mudah dipahami.

Meski demikian, keberadaan perangkat digital tidak otomatis menjamin pembelajaran menjadi efektif. Guru tetap perlu merancang kegiatan belajar secara terarah agar penggunaan teknologi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa.

Teknologi Canggih Harus Diimbangi Karakter

Transformasi digital pendidikan pada akhirnya tidak cukup diukur dari banyaknya perangkat yang digunakan atau cepatnya pekerjaan guru diselesaikan. Keberhasilan justru terlihat dari peningkatan kualitas proses belajar dan kemampuan siswa mengembangkan potensinya.

AI dapat membantu menyusun materi, perangkat digital dapat memperkaya pengalaman belajar, sedangkan platform pendidikan membuka akses terhadap berbagai sumber pengetahuan. Namun, guru tetap menjadi sosok penting yang mengarahkan proses belajar sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter.

Melalui workshop tersebut, penguatan kompetensi pendidik dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab menjadi bagian dari upaya menghadapi perubahan dunia pendidikan.

Generasi masa depan tidak hanya dituntut mahir menggunakan teknologi. Mereka juga harus memiliki kreativitas, kemampuan berpikir kritis, karakter yang kuat, dan daya saing untuk menghadapi tantangan global.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, teknologi memang dapat membuat pekerjaan lebih cepat. Namun, pendidikan tetap membutuhkan peran manusia agar kecerdasan tidak tumbuh tanpa karakter.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network