Ekonomi Jawa Timur Tumbuh Tertinggi di Pulau Jawa, BPS Ungkap Faktor Penyebabnya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di saat banyak daerah di Indonesia masih berjibaku menghadapi perlambatan ekonomi global, Jawa Timur justru melaju dengan ritme yang berbeda. Provinsi ini kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional, dengan tren pertumbuhan yang tetap terjaga hingga akhir 2025 dan memberi optimisme memasuki 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, di tengah tekanan geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, hingga pelemahan permintaan internasional, perekonomian Jawa Timur tetap bertahan. Bahkan, pada kuartal III 2025, ekonomi Jatim tumbuh sebesar 1,70 persen secara kuartalan (q-to-q), menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menyebut capaian tersebut mencerminkan kuatnya fondasi ekonomi daerah. Menurutnya, ketahanan ini tidak lahir secara instan, melainkan hasil kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Pertumbuhan ini mencerminkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi Jawa Timur,” ujar Zulkipli.
Tak hanya bertumpu pada konsumsi domestik, mesin pertumbuhan ekonomi Jawa Timur juga ditopang oleh kinerja ekspor yang terus menggeliat. Hingga November 2025, nilai ekspor Jawa Timur tercatat mencapai USD 27,63 miliar, meningkat 15,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi sinyal bahwa produk-produk asal Jawa Timur masih memiliki daya saing di pasar global.
“Ini menunjukkan permintaan global terhadap produk lokal Jawa Timur tetap terjaga,” tambahnya.
Pengamat Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Zulfikri, menilai stabilnya pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tidak terlepas dari karakter struktur ekonominya yang beragam dan saling menopang. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur relatif aman dan stabil di kisaran 5 persen.
“Di Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi tidak bergantung pada satu sektor saja. Industri pengolahan, perdagangan, pertanian, hingga transportasi dan pergudangan saling menguatkan. Ketika satu sektor melemah, sektor lain bisa mengompensasi,” jelasnya.
Zulfikri juga menekankan peran penting konsumsi rumah tangga sebagai jangkar stabilitas ekonomi. Dengan jumlah penduduk yang besar dan aktivitas UMKM yang masif, daya beli masyarakat—terutama di kawasan perkotaan dan sentra usaha kecil—masih terjaga, sehingga roda ekonomi tetap berputar meski ekspor dan investasi global melambat.
Di sisi industri, sektor pengolahan masih menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Industri makanan dan minuman, kimia, farmasi, hingga industri berbasis agro terus berkembang, terutama untuk memenuhi pasar domestik. Posisi Jawa Timur sebagai basis industri penyangga nasional membuat sektor ini relatif tidak terlalu sensitif terhadap gejolak eksternal.
Ketahanan ekonomi Jawa Timur juga diperkuat oleh dominasi UMKM dan ekonomi kerakyatan. Fleksibilitas usaha, kemampuan adaptasi melalui digitalisasi, serta inovasi model bisnis membuat pelaku UMKM tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi global. Aktivitas ekonomi skala kecil ini menjadi penopang penting ketika sektor-sektor besar cenderung melambat.
Selain itu, peran belanja pemerintah daerah dan keberlanjutan proyek-proyek strategis turut memberi dorongan tambahan. Realisasi APBD, pembangunan infrastruktur, hingga program perlindungan sosial membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Faktor strategis lainnya adalah posisi Jawa Timur sebagai pusat logistik dan distribusi kawasan Indonesia Timur. Peran ini mendorong pertumbuhan sektor transportasi, pergudangan, dan perdagangan antarwilayah, sekaligus memperkuat kinerja ekonomi daerah secara keseluruhan.
Ke depan, Zulfikri mengingatkan tantangan pemerintah daerah tidak hanya sebatas menjaga laju pertumbuhan. Lebih dari itu, kualitas pertumbuhan menjadi kunci.
“Tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Itu bisa dicapai melalui penguatan investasi produktif, transformasi industri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto