Berawal dari Pilah Sampah Rumah Tangga, Kampung di Sidoarjo Kini Jadi Contoh Internasional
Ia mengaku tidak pernah membayangkan gerakan berbasis RT mampu menjadi ruang belajar lintas negara. Menurutnya, kunjungan delegasi Malaysia menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari level paling dasar.
“Perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar. Kalau dilakukan bersama dan konsisten, kebiasaan kecil bisa memberi dampak luas,” tambahnya.
Kunjungan berlangsung hangat dan interaktif. Delegasi terlihat antusias berdiskusi dengan warga, mempelajari alur pengelolaan bank sampah, serta melihat langsung bagaimana sampah organik diolah menjadi kompos yang bernilai guna.
Ketua Komite Perumahan dan Pemerintahan Daerah Negeri Perak, YB Sandrea Ng Shy Ching, menilai Kampung Edukasi Sampah sebagai contoh nyata perubahan lingkungan yang dimulai dari rumah tangga.
“Yang paling kami kagumi adalah semangat komunitasnya. Bukan soal teknologi mahal, tapi kesadaran kolektif warganya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, praktik pengelolaan sampah di Sidoarjo sejalan dengan agenda Smart City 2040 Negeri Perak dan berpotensi direplikasi sebagai model pengelolaan lingkungan yang sederhana namun berdampak jangka panjang.
Hal senada disampaikan Wali Kota Tanjong Malim, Dr. Shazree Idzham. Ia menilai keberhasilan Kampung Edukasi Sampah terletak pada kolaborasi yang kuat antara warga dan aparatur setempat, sehingga program berjalan konsisten dan menjadi budaya bersama.
“Kami melihat ini bukan program sementara, tetapi kebiasaan yang hidup di masyarakat. Itu yang membuatnya bertahan,” ujarnya.
Sementara itu, Setiausaha MDTM, Roslan bin Kamaruzaman, mengaku terkesan dengan komunitas berskala kecil yang mampu menjaga keberlanjutan program secara konsisten.
“Walaupun komunitasnya kecil, mereka mampu mempertahankan program ini dalam jangka panjang. Itu sangat menginspirasi,” katanya.
Bagi delegasi Malaysia, Kampung Edukasi Sampah menjadi contoh konkret penerapan konsep Smart City yang bertumpu pada edukasi, partisipasi warga, dan kolaborasi sosial. Dari sebuah kampung di Sidoarjo, mereka melihat bahwa masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh kesadaran dan keterlibatan aktif warganya.
Editor : Arif Ardliyanto