get app
inews
Aa Text
Read Next : ​Konflik Iran–Israel Picu Kelangkaan Kapal, Tarif Sewa Diprediksi Melonjak

Waspada! Konflik AS-Israel-Iran Bisa Bikin Harga Rumah Makin Mahal

Kamis, 12 Maret 2026 | 14:02 WIB
header img
Pakuwon Group meluncurkan cluster hunian premium Belvedere tahap 2 yang berlokasi di kawasan Pakuwon Indah. Foto : Lukman Hakim.

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Perang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, termasuk dampaknya terhadap sektor properti di Indonesia.

Meski tidak berdampak langsung pada penghentian transaksi, gangguan jalur distribusi energi global diprediksi akan mendongkrak harga hunian akibat kenaikan biaya produksi dan inflasi.

Kenaikan harga bahan bangunan dan biaya transportasi diperkirakan akan mendorong harga properti terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi di sektor properti.

Direktur Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi mengatakan kenaikan harga properti tidak terlepas dari meningkatnya biaya pembangunan, termasuk harga besi, material bangunan, hingga biaya logistik.

“Harga pasti naik. Harga bangunan, bahan bangunan, besi, karena transportasi juga akan naik,” ujarnya saat ditemui usai meluncurkan cluster hunian premium Belvedere tahap 2 yang berlokasi di kawasan Pakuwon Indah, Surabaya Barat, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, dalam situasi ekonomi saat ini masyarakat justru disarankan membeli properti lebih awal sebelum harga semakin meningkat. “Kalau tidak beli sekarang, nanti lebih mahal,” kata Sutandi.

Ia menjelaskan besaran kenaikan harga properti sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, terutama harga energi seperti minyak. Jika harga minyak dunia meningkat hingga sekitar USD150 per barel, maka biaya pembangunan properti juga akan terdampak.

Selain itu, tren inflasi di Indonesia juga mulai meningkat. Jika sebelumnya berada di kisaran 2,2 hingga 2,3 persen, kini telah menyentuh sekitar 4,7 persen.

“Kalau nanti naik lagi bahkan sampai dua digit, tentu akan berpengaruh juga pada harga properti,” jelasnya.

Meski demikian, Sutandi menilai properti tetap menjadi instrumen investasi yang relatif aman karena termasuk kategori aset riil (real asset).

“Properti itu real asset. Memang tidak terlalu likuid, tetapi nilainya cenderung naik dalam jangka panjang. Kalau sedang turun jangan dijual, karena suatu saat pasti akan naik lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan biaya pembangunan rumah dipastikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan sehingga harga jual properti juga ikut terdongkrak. “Bangun rumah seperti ini dua tahun lagi pasti sudah berbeda harganya,” katanya.

Terkait Belvedere tahap 2 yang berlokasi di kawasan Pakuwon Indah, Surabaya Barat, cluster ini hadir untuk menjawab tingginya permintaan pasar terhadap hunian premium yang mengutamakan kenyamanan, privasi, serta gaya hidup modern.

Cluster ini dilengkapi sistem keamanan dengan akses private gate dan pengawasan CCTV. Hunian yang ditawarkan memiliki lima tipe dengan luas bangunan mulai 208 meter persegi hingga 504 meter persegi.

Sutandi menyebut tahap pertama Belvedere yang diluncurkan pada 2025 telah terjual habis. Pada tahap kedua ini, harga hunian yang ditawarkan bervariasi, mulai dari sekitar Rp11 miliar untuk rumah dengan lebar delapan meter hingga sekitar Rp22 miliar untuk tipe terbesar dengan lebar 18 meter. “Ini memang rumah premium karena pasarnya saat ini cukup menjanjikan,” kata Sutandi.

Menurut Sutandi, pasar properti premium di Surabaya masih sangat menjanjikan, terutama dari kalangan menengah atas.

“Untuk kalangan menengah atas, kondisi seperti sekarang justru sering menjadi waktu yang tepat untuk membeli properti,” ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut