get app
inews
Aa Text
Read Next : Libur Lebaran 2026, Parkir KBS Dialihkan ke TIJ dan Sutos, Dishub Surabaya Siapkan Shuttle Gratis

TKA Berbasis Komputer di Surabaya 2026: Bukan Lagi Soal Hafalan, Ini Tujuan Sebenarnya

Minggu, 29 Maret 2026 | 13:54 WIB
header img
Pemkot Surabaya terapkan TKA berbasis komputer untuk SD dan SMP 2026. Ujian fokus literasi dan numerasi, menguji logika siswa, bukan hafalan. Foto tangkap layar

Di sisi lain, inklusivitas juga menjadi perhatian. Siswa dengan disabilitas netra difasilitasi dengan teknologi screen reader agar tetap bisa mengikuti ujian dengan nyaman.

Yang paling mencolok, TKA tahun ini tidak lagi berfokus pada hafalan. Materi hanya mencakup Matematika dan Bahasa Indonesia, namun dirancang untuk menguji kemampuan berpikir kritis, analisis, dan pemecahan masalah.

“Yang dinilai itu logika dan cara berpikir siswa, bukan sekadar mengingat materi,” tegasnya.

Pelaksanaan TKA untuk SMP dijadwalkan berlangsung pada 6–16 April 2026, sedangkan jenjang SD pada 20–30 April 2026. Setiap sesi tidak hanya berisi ujian utama, tetapi juga latihan serta survei karakter siswa.

Sebelum sampai pada tahap ini, siswa telah melewati berbagai persiapan, mulai dari pendaftaran sejak Januari, simulasi, hingga gladi ujian pada Maret. Bahkan, sekolah juga rutin menggelar try out untuk membantu siswa lebih siap.

Pemkot Surabaya memastikan seluruh infrastruktur pendukung telah disiapkan, mulai dari komputer, jaringan internet, hingga pasokan listrik. Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan telekomunikasi dan PLN.

Tak hanya itu, sistem pengawasan diperketat melalui pengawas silang antar sekolah serta pemantauan terpusat guna menjaga transparansi dan kejujuran.

Namun di balik semua kesiapan teknis, ada satu hal yang tak kalah penting: kondisi mental siswa.

Sekolah diminta menciptakan suasana yang nyaman agar TKA tidak menjadi momok menakutkan. Harapannya, siswa bisa menghadapi ujian dengan lebih percaya diri dan tenang.

“TKA jangan jadi beban. Harus dibuat menyenangkan supaya anak-anak siap secara mental,” kata Febrina.

Meski tidak bersifat wajib, TKA tetap didorong untuk diikuti siswa. Hasilnya nanti bisa menjadi bahan evaluasi diri, bahkan pertimbangan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Ke depan, TKA diharapkan tidak hanya menjadi alat ukur semata, tetapi juga pijakan penting dalam memperbaiki kualitas pembelajaran di Surabaya.

Dengan pendekatan berbasis logika dan analisis, hasil TKA diyakini mampu memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kualitas pendidikan—bukan sekadar angka, tetapi cerminan kemampuan berpikir generasi masa depan.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut