Stok Elpiji Nasional Capai 20 Hari, Jatim Punya Cadangan 4,4 Hari, Ini Faktanya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kabar kelangkaan elpiji sempat membuat sebagian warga Jawa Timur resah. Antrean di sejumlah pangkalan pun mulai terlihat, terutama dari kalangan ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kecil yang menggantungkan aktivitas memasak pada gas bersubsidi atau yang akrab disebut “gas melon”.
Menanggapi situasi ini, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Emil melakukan pengecekan stok elpiji di salah satu pangkalan di kawasan Jemursari II, Surabaya. Di lokasi tersebut, ia ingin memastikan distribusi berjalan normal dan tidak terjadi kekosongan yang meresahkan masyarakat.
“Kalau sampai ada kekosongan di pangkalan, harus segera direspons. Distribusi dari agen atau SPBE harus langsung digerakkan,” tegas Emil saat meninjau lokasi.

Meski sempat muncul kekhawatiran, pemerintah memastikan stok elpiji secara keseluruhan masih dalam kondisi aman. Berdasarkan data PT Pertamina (Persero), ketahanan stok LPG nasional berada di atas 20 hari.
Sementara itu, untuk wilayah Jawa Timur, stok siap salur tercatat sekitar 4,4 hari. Angka ini, menurut Emil, merupakan bagian dari sistem distribusi energi yang terus bergerak.
“Kalau dihitung dengan yang masih dalam perjalanan dan di pelabuhan, stoknya jauh lebih dari cukup. Jadi masyarakat tidak perlu panik,” ujarnya menenangkan.
Di Jawa Timur, distribusi elpiji didukung oleh sekitar 36 ribu pangkalan resmi. Pangkalan inilah yang menjadi ujung tombak penyaluran langsung ke masyarakat.
Emil mengingatkan warga untuk membeli elpiji hanya di pangkalan resmi agar harga tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni sekitar Rp18.000 per tabung.
“Kalau beli di pangkalan resmi, selain harga terkendali, pasokan juga lebih terjamin,” jelasnya.
Kekhawatiran terbesar pemerintah bukan hanya soal kepanikan warga, tetapi juga dampaknya terhadap pelaku UMKM makanan. Bagi mereka, kelangkaan elpiji bisa langsung mengganggu aktivitas usaha sehari-hari.
Untuk itu, pemerintah bersama Pertamina memastikan distribusi tetap lancar, terutama bagi kelompok yang sangat bergantung pada gas subsidi.
Distribusi Dipantau Real-Time
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Iwan Yudha Wibawa, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau distribusi secara ketat.
Menurutnya, pergerakan elpiji dari terminal hingga ke pangkalan diawasi secara real-time untuk memastikan tidak ada hambatan.
“Stok aman. Distribusi terus berjalan. Kami pastikan masyarakat tetap bisa mendapatkan elpiji sesuai kebutuhannya,” ujarnya.
Pembelian Dibatasi Agar Tepat Sasaran
Untuk menjaga agar distribusi tetap merata dan tepat sasaran, pembelian elpiji juga diatur.
Rumah tangga: maksimal 10 tabung per bulan
Pelaku UMKM: maksimal 15 tabung per bulan
Langkah ini diambil agar tidak terjadi penumpukan oleh pihak tertentu yang justru bisa memicu kelangkaan di tingkat masyarakat.
Kekhawatiran warga terkait kelangkaan elpiji di Jawa Timur dipastikan tidak berdasar. Pemerintah dan Pertamina menjamin stok dalam kondisi aman, dengan catatan distribusi harus terus dijaga lancar.
Dengan membeli di pangkalan resmi dan sesuai kebutuhan, masyarakat diharapkan tidak perlu lagi panik menghadapi isu kelangkaan gas melon.
Editor : Arif Ardliyanto