Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Petugas Curiga Lihat Tumpukan di Balik Semak, Ternyata 45 Batang Kayu Jati Diduga Hasil Pembalakan
Advertisement . Scroll to see content

Mangrove Tersembunyi di Banyuwangi Mulai Terkuak, Hutan Produksi Ini Siap Jadi Wisata Edukasi Baru

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:54 WIB
  • author Siswanto
Mangrove Tersembunyi di Banyuwangi Mulai Terkuak, Hutan Produksi Ini Siap Jadi Wisata Edukasi Baru
Hutan produksi di Banyuwangi selatan menyimpan ekosistem mangrove seluas 348 hektare yang berpotensi jadi wisata edukasi berbasis alam dengan konsep konservasi berkelanjutan. Foto iNewsSurabaya.id/siswanto

BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Di balik sunyi kawasan hutan produksi di selatan Banyuwangi, tersimpan potensi alam yang selama ini nyaris luput dari perhatian. Kawasan di RPH Kedunggebang, BKPH Blambangan, KPH Banyuwangi Selatan, perlahan mulai mencuri perhatian sebagai calon destinasi wisata berbasis ekologi.

Bukan sekadar hutan produksi biasa, area ini menyimpan hamparan mangrove yang tumbuh alami dan masih terjaga. Di tengah ancaman abrasi dan perubahan iklim, keberadaan mangrove ini menjadi benteng alami yang tak ternilai.

Kepala RPH Kedunggebang, Syaiful Anam, menyebut luas kawasan hutan produksi Petak 130e mencapai 348,8 hektare. Angka itu bukan hanya soal luas, tetapi juga menggambarkan besarnya potensi yang bisa dikembangkan.

Ekosistem mangrove di sini punya nilai ekologis tinggi. Selain melindungi garis pantai dari abrasi, juga menjadi rumah bagi berbagai biota laut dan mampu menyerap emisi karbon,” ujarnya.


Hutan produksi di Banyuwangi selatan menyimpan ekosistem mangrove seluas 348 hektare yang berpotensi jadi wisata edukasi berbasis alam dengan konsep konservasi berkelanjutan. Foto iNewsSurabaya.id/siswanto

Lebih dari itu, kawasan ini menyimpan peluang lain yang tak kalah penting: wisata edukasi. Di tengah tren wisata berbasis alam, mangrove Kedunggebang dinilai bisa menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat.

Bayangkan berjalan di jalur kayu di tengah rimbunnya mangrove, mendengar suara burung liar, hingga melihat langsung kehidupan biota pesisir—pengalaman yang bukan hanya menyegarkan, tetapi juga memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga alam.

KBKPH/Asper Blambangan, Hermawan Andi Seswoyo, menegaskan bahwa kawasan ini berada di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, dan memiliki peluang besar menjadi destinasi baru di Banyuwangi selatan.

Namun, ia mengingatkan, pengembangan tidak boleh dilakukan sembarangan. Prinsip utama tetap konservasi.

“Setiap langkah pengembangan harus menjaga keseimbangan ekosistem. Ini bukan sekadar wisata, tapi juga upaya menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Menurutnya, perencanaan akan dilakukan secara bertahap dan terukur. Mulai dari akses menuju lokasi, penataan kawasan, hingga sistem pengawasan agar tidak merusak fungsi utama hutan.

Sebagai kawasan hutan produksi milik Perhutani, aturan tetap menjadi pegangan utama. Pengelolaan harus mengikuti regulasi yang berlaku, sekaligus mencegah aktivitas ilegal yang bisa merusak ekosistem mangrove yang masih alami.

Di tengah geliat pengembangan wisata di Banyuwangi, kawasan Kedunggebang menawarkan sesuatu yang berbeda—wisata yang tidak hanya dinikmati, tetapi juga dipelajari dan dijaga bersama.

Harapannya, keterlibatan masyarakat sekitar menjadi kunci. Bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari penjaga dan pengelola kawasan.

“Dukungan semua pihak sangat penting agar potensi ini bisa berkembang tanpa merusak alamnya,” pungkas Hermawan.

Kini, hutan yang dulu hanya dikenal sebagai kawasan produksi, perlahan membuka wajah barunya—sebagai ruang hidup, ruang belajar, dan harapan baru wisata berkelanjutan di Banyuwangi.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut