Emas Makin Dilirik Investor, Saham Tambang Global Jadi Alternatif Investasi
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Emas semakin menjadi salah satu aset yang diperhitungkan investor global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Tren tersebut turut mendorong minat terhadap investasi pada perusahaan pertambangan emas dan logam mulia. Emas kini dapat diakses nasabah HSBC Indonesia melalui produk reksa dana berbasis syariah.
PT Bank HSBC Indonesia menghadirkan Batavia Gold Sharia Equity USD, reksa dana saham berbasis syariah yang dikelola PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM).
Produk ini memberikan akses kepada nasabah untuk berinvestasi pada saham perusahaan pertambangan emas dan logam mulia global, dengan fleksibilitas investasi pada berbagai kapitalisasi pasar.
HSBC menyebut prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih positif. Dalam riset Invest with Experts: Our Outlook for Gold Remains Positive Amid Ongoing Geopolitical Conflict, HSBC mencatat harga emas sempat mencapai rekor USD5.415 per ounce pada Januari 2026 sebelum terkoreksi sekitar 20 persen.
Sementara itu, survei HSBC Global Affluent Investor Snapshot 2026 terhadap hampir 10.000 investor affluent dan high-net-worth di 10 pasar menunjukkan emas, baik fisik maupun digital, menjadi aset ketiga yang paling banyak dimiliki secara global.
International Wealth and Premier Banking Director HSBC Indonesia, Lanny Hendra mengatakan, meningkatnya minat terhadap emas menjadi salah satu pertimbangan dihadirkannya produk tersebut.
“Kami melihat minat yang besar di kalangan investor terkait dengan investasi emas. Melalui Batavia Gold Sharia Equity USD, nasabah dapat memiliki eksposur ke perusahaan pertambangan emas dan logam mulia, yang juga diuntungkan dari tren positif tadi,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).
Presiden Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi menambahkan, produk tersebut dirancang untuk memberikan akses terhadap potensi pertumbuhan industri emas global melalui saham perusahaan pertambangan emas yang memiliki fundamental dan prospek jangka panjang.
Editor: Arif Ardliyanto