Belajar Jadi Barista hingga Pebisnis Bakery, Cara SMA di Surabaya Ini Bekali Siswa yang Bakal Lulus
Kepala Sekolah SMA Wijaya Putra Surabaya, Andri Priyono mengatakan, program ini sengaja dirancang agar siswa tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki pola pikir entrepreneur yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
“ Kami mengarahkan mereka untuk menjadi sociopreneur. Artinya, ketika mereka membuka kedai kopi atau usaha bakery nanti, mereka harus berpikir bagaimana usaha tersebut bisa berdampak, misalnya dengan memberdayakan petani lokal atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sembari nantinya melanjutkan studi di UWP,” ujarnya.
Selain praktik kuliner, siswa juga mendapatkan materi mengenai strategi bisnis berkelanjutan. Mereka diajak memahami bagaimana sebuah produk tidak hanya dijual dari rasa, tetapi juga dari cerita dan nilai sosial yang dibangun.
“ Mereka diajak berdiskusi tentang bagaimana sebuah produk kuliner bisa memiliki narasi sosial yang kuat sehingga memberikan nilai tambah bagi konsumen sekaligus lingkungan sekitar,” tambahnya.
Program ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan industri kreatif dan ekonomi modern. Di tengah meningkatnya tren usaha kopi dan bakery di Indonesia, keterampilan seperti ini dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi generasi muda.
Bagi para siswa, pelatihan tersebut bukan sekadar belajar membuat kopi atau roti. Aroma kopi dan pastry yang tercipta selama kegiatan menjadi simbol lahirnya semangat baru generasi muda untuk tumbuh sebagai sociopreneur yang tidak hanya mengejar keuntungan pribadi, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
Editor : Arif Ardliyanto