Fast Fashion dan Budaya Buang Pakaian, jadi Ancaman Nyata Lingkungan Kota
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Fenomena “lapar mata” saat melihat diskon outfit di aplikasi belanja online kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Membeli pakaian baru terasa mudah dan menyenangkan, tetapi banyak orang hanya antusias saat berbelanja, lalu abai ketika pakaian tersebut tidak lagi digunakan. Lemari menjadi penuh, sementara pakaian bekas berakhir di tempat sampah dan menumpuk sebagai limbah tekstil yang sulit terurai.
Dunia fesyen bergerak secepat jari melakukan scrolling di layar ponsel. Di tengah gempuran tren yang terus berganti, masyarakat urban, termasuk di Surabaya, perlahan terjebak dalam budaya konsumtif yang masif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat transaksi e-commerce pada triwulan III 2025 tumbuh 6,19 persen dibanding triwulan sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan aktivitas belanja online yang terus meningkat, termasuk di Surabaya sebagai salah satu pusat transaksi digital terbesar di Jawa Timur.
Pakaian kini bukan lagi sekadar kebutuhan dasar untuk melindungi tubuh. Fesyen telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup, pelampiasan stres, hingga sarana membangun citra di media sosial. Banyak orang ingin selalu tampil berbeda dalam setiap unggahan. Namun di balik kemudahan menekan tombol “checkout”, muncul persoalan besar yang sering diabaikan, yakni limbah tekstil.
Fenomena ini melahirkan pola konsumsi instan. Masyarakat begitu cepat membeli pakaian baru, tetapi enggan bertanggung jawab ketika pakaian mulai pudar, rusak, atau dianggap tidak lagi mengikuti tren. Konsumen menikmati sisi estetika dari fesyen, tetapi menutup mata terhadap dampak sampah yang dihasilkan.
Padahal, pakaian murah yang mudah dibuang memiliki biaya ekologis yang sangat mahal. Banyak orang menganggap membuang baju bekas ke tempat sampah adalah akhir dari persoalan, padahal itu justru menjadi awal masalah lingkungan baru. Serat sintetis seperti polyester dan nilon pada dasarnya merupakan bentuk lain dari plastik. Ketika limbah pakaian berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, material tersebut membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai.
Editor : Arif Ardliyanto