get app
inews
Aa Text
Read Next : Tren Belanja Anak Muda Mulai Berubah, Produk Asal Cina Ini Pilih PIndah ke Penjualan Offline

Fast Fashion dan Budaya Buang Pakaian, jadi Ancaman Nyata Lingkungan Kota

Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB
header img
Dunia fesyen bergerak secepat jari melakukan scrolling di layar ponsel. Di tengah gempuran tren yang terus berganti, masyarakat perlahan terjebak dalam budaya konsumtif Foto: Flow

Dalam prosesnya, limbah tekstil dapat menghasilkan gas metana yang memperburuk pemanasan global serta melepaskan mikroplastik yang mencemari tanah dan air. Kebiasaan buang lalu lupakan inilah yang menjadi salah satu ancaman serius bagi lingkungan perkotaan.

Di tengah persoalan tersebut, Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) menghadirkan langkah konkret melalui layanan Kainku. Program ini menjadi salah satu inovasi pengelolaan limbah tekstil berbasis ekonomi sirkular di Surabaya. Kainku tidak hanya menampung pakaian bekas, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mulai bertanggung jawab terhadap limbah fesyen yang mereka hasilkan.

Melalui layanan ini, masyarakat diajak memilah sampah kain agar tidak tercampur dengan sampah rumah tangga lainnya. Kain yang disetorkan kemudian dipilah berdasarkan jenis dan kondisi materialnya. Untuk kain yang sudah tidak layak pakai atau berupa potongan perca, BSIS melakukan proses upcycling atau daur ulang kreatif. Bahkan, masyarakat mendapat nilai ekonomi dari limbah yang disetorkan, yakni sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Hasil pengolahan kain bekas tersebut kemudian diubah menjadi berbagai produk baru seperti keset, tas belanja, isian bantal, hingga produk kerajinan tangan lainnya yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Langkah ini menunjukkan bahwa limbah tekstil sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dikelola dengan tepat.

Pesan utama dari layanan Kainku cukup jelas, tanggung jawab terhadap barang tidak berhenti setelah transaksi selesai dilakukan. Membeli pakaian tanpa memikirkan dampak limbahnya merupakan bentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan. Banyak orang bangga tampil modis dengan harga murah, tetapi jarang mempertanyakan siapa yang akan menanggung beban sampah dari pakaian tersebut di masa depan.

Jika jawabannya adalah bumi dan generasi berikutnya, maka gaya hidup konsumtif yang tidak disertai tanggung jawab perlu segera dievaluasi. Kainku hadir sebagai upaya memutus rantai budaya konsumsi sekali pakai yang semakin mengakar di masyarakat.

Selain aspek lingkungan, program ini juga membawa misi edukasi mengenai ekonomi sirkular. Konsep ini menekankan bahwa setiap material harus tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin sehingga tidak langsung menjadi sampah. Mengolah kembali kain bekas dinilai lebih ramah lingkungan dibanding memproduksi bahan baru yang membutuhkan air, energi, dan sumber daya dalam jumlah besar.

Bagi warga Surabaya, mendukung layanan seperti Kainku seharusnya tidak lagi dipandang sekadar pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama. Sebagai kota metropolitan, Surabaya menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks. Jika pola konsumsi masyarakat tetap sama, kapasitas TPA akan semakin cepat penuh.

BSIS melalui Kainku telah menyediakan akses yang relatif mudah bagi masyarakat untuk mulai berkontribusi. Warga tidak hanya membantu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang disetorkan melalui sistem tabungan bank sampah.

Sudah saatnya masyarakat mulai meninjau kembali kebiasaan konsumsi fesyen mereka. Menjadi modis tidak harus berujung pada kerusakan lingkungan. Kepedulian terhadap bumi seharusnya berjalan seiring dengan gaya hidup modern.

Kainku menjadi pengingat bahwa setiap keputusan belanja memiliki konsekuensi jangka panjang. Karena itu, langkah sederhana seperti memilah dan menyetorkan pakaian bekas dapat menjadi kontribusi nyata untuk menciptakan Surabaya yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Penulis
Wisnu Rama Ardana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya)

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut