24 Ribu Inovasi Pendidikan Dipamerkan, Jawa Timur Kokoh Jadi Juara Inovasi Nasional
Salah satu program yang paling menyita perhatian ialah East Java Innovative Education Summit (EJIES). Program tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi sekolah, guru, dan pelajar di Jawa Timur untuk menampilkan ide kreatif serta terobosan pendidikan.
“Total ada sekitar 24 ribu inovasi yang masuk melalui EJIES,” ungkapnya.
Aries juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan media dalam memperkuat publikasi inovasi pendidikan. Menurutnya, dukungan media menjadi bagian penting dalam konsep pentahelix pengembangan inovasi daerah.
Sementara itu, Yusharto Huntoyungo menegaskan Jawa Timur masih menempati posisi sebagai provinsi paling inovatif di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran indeks inovasi daerah Kemendagri.
Meski berada di peringkat tertinggi, Yusharto mengingatkan bahwa persaingan antardaerah semakin ketat sehingga akselerasi inovasi harus terus dilakukan.
“Jawa Timur tidak boleh merasa aman. Daerah lain juga terus bergerak dan bisa saja lebih agresif dalam membangun inovasi,” tegasnya.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menciptakan inovasi, melainkan membangun budaya inovasi yang kolaboratif antarlembaga pemerintahan.
Yusharto mencontohkan pentingnya sinergi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan dalam mendukung transportasi pelajar agar akses pendidikan semakin mudah dan nyaman.
“Ekosistem inovasi harus dibangun bersama supaya dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Kemendagri sendiri tengah mempersiapkan sistem penilaian IGA 2026 dengan kemungkinan penyesuaian tema inovasi. Jika sebelumnya fokus pada program prioritas pemerintah, ke depan inovasi daerah akan diarahkan mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) serta program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Yusharto, terdapat 54 program prioritas nasional yang membutuhkan dukungan inovasi daerah agar target pembangunan dapat tercapai lebih cepat.
“Tanpa inovasi, percepatan program tidak akan maksimal jika hanya memakai cara-cara biasa,” ujarnya.
Di sisi lain, Dyah Natalisa menilai budaya inovasi di Jawa Timur, khususnya di sektor pendidikan, sudah terbentuk dengan sangat baik dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia bahkan menyebut Jawa Timur selalu selangkah lebih maju dibanding daerah lain dalam menghadirkan inovasi pelayanan publik.
“Saya melihat Jawa Timur selalu one step ahead,” katanya.
Dyah mengapresiasi inovasi Dindik Jatim yang tidak hanya fokus pada kualitas pembelajaran, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan guru dan siswa.
Menurutnya, proses kurasi dan kompetisi inovasi antar sekolah yang dilakukan Dindik Jatim berhasil membangun ekosistem inovasi yang kuat hingga melahirkan banyak program unggulan.
Namun demikian, ia mengingatkan agar seluruh inovasi yang terbukti berhasil dapat dilembagakan sehingga tetap berjalan meski terjadi pergantian kepemimpinan.
“Inovasi yang baik harus menjadi sistem agar bisa terus dikembangkan siapapun pemimpinnya,” tegas Dyah.
Ia juga mendorong penguatan transformasi digital serta pengembangan kewirausahaan guru dalam inovasi pendidikan di Jawa Timur. Selain itu, evaluasi melalui survei penerima manfaat dinilai penting untuk mengukur dampak langsung program seperti Proteg dan EJIES terhadap masyarakat.
Editor: Arif Ardliyanto