Tugu Pahlawan Jadi Pusat Hiburan Rakyat, Senja Budaya 2026 Tawarkan Suasana Cangkrukan Unik
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kawasan Tugu Pahlawan bakal disulap menjadi ruang budaya penuh nostalgia pada akhir pekan ini. Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan “Senja Budaya 2026”, sebuah festival terbuka yang memadukan seni tradisional, hiburan modern, hingga wisata kuliner khas rakyat dalam suasana santai ala cangkrukan.
Acara yang menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 itu digelar selama dua hari, 30–31 Mei 2026 mulai pukul 16.00 WIB. Konsep yang diusung tahun ini dibuat lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda, agar budaya lokal tetap hidup di tengah derasnya perkembangan era digital.
Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga diajak merasakan atmosfer budaya khas Surabaya lewat konsep lesehan terbuka yang hangat dan interaktif. Nuansa sore di kawasan Tugu Pahlawan pun dipersiapkan menjadi tempat berkumpul favorit bagi keluarga, komunitas, hingga anak muda.
Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah, mengatakan konsep Senja Budaya 2026 berbeda dibanding tahun sebelumnya yang lebih berfokus pada kegiatan Night at The Museum.
“Sekarang konsepnya kami bawa lebih terbuka dan santai. Kami memadukan budaya tradisional dengan sentuhan modern supaya lebih dekat dengan anak muda,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Selama dua hari penyelenggaraan, berbagai hiburan budaya akan tampil meramaikan acara. Mulai dari live music, dongeng budaya, pertunjukan jaranan, hingga ludruk yang dibawakan Dagelan Luntas dan RRI. Seluruh pertunjukan dikemas lebih segar agar tetap menarik bagi generasi muda.
Menurut Saida, kegiatan ini juga menjadi langkah untuk menghidupkan kembali kesenian rakyat yang mulai jarang dikenal masyarakat. Kehadiran ludruk dan jaranan di ruang publik diharapkan mampu memperluas ruang apresiasi budaya lokal Surabaya.
“Banyak kesenian tradisional yang mulai terlupakan. Lewat Senja Budaya kami ingin mengenalkan kembali budaya lokal kepada masyarakat, terutama anak muda,” katanya.
Editor: Arif Ardliyanto