Permainan Tradisional Jadi Magnet di Tugu Pahlawan, Warga Surabaya Bisa Bernostalgia dan Mencobanya
Tak hanya permainan tradisional, Senja Budaya juga menghadirkan beragam kuliner khas Surabaya dan jajanan tempo dulu yang kini mulai sulit ditemukan. Pengunjung dapat menikmati aneka hidangan tradisional sambil bersantai di area lesehan yang disiapkan panitia.
Konsep cangkrukan khas Surabaya semakin terasa saat alunan musik pop Jawa modern mengiringi aktivitas warga yang berkumpul bersama keluarga maupun sahabat. Lampu dekoratif yang mulai menyala menjelang malam turut menambah suasana hangat di kawasan cagar budaya tersebut.
Saida menjelaskan, acara ini tidak hanya bertujuan memberikan hiburan, tetapi juga menjadi upaya mengenalkan kembali identitas budaya Surabaya kepada generasi muda.
"Kami ingin anak-anak muda mengenal kembali warisan budaya kota ini, baik melalui kuliner, permainan tradisional, maupun kesenian rakyat yang ditampilkan," katanya.
Selain aktivitas permainan dan wisata kuliner, pengunjung juga disuguhi berbagai pertunjukan hiburan rakyat. Salah satunya penampilan kelompok ludruk yang menjadi bagian dari upaya pelestarian seni tradisional Jawa Timur.
Antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi. Hingga Sabtu petang, ratusan pengunjung telah menukarkan tiket masuk untuk menikmati berbagai kegiatan yang berlangsung hingga malam hari. Panitia menargetkan total kunjungan mencapai 10.000 orang selama dua hari pelaksanaan.
Salah seorang pengunjung, Audina Putri (18), mengaku terkesan dengan konsep acara yang memadukan budaya, kuliner, dan permainan tradisional dalam suasana santai.
Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan hiburan digital.
"Acara seperti ini seru karena kita bisa kulineran, menikmati musik, sekaligus melihat dan mengenal permainan tradisional. Harapannya bisa lebih sering diadakan agar anak-anak dan generasi muda tidak melupakan budaya asli daerahnya," ujar Audina.
Melalui Senja Budaya, Tugu Pahlawan tidak hanya menjadi simbol perjuangan sejarah, tetapi juga ruang bersama bagi warga untuk melestarikan permainan tradisional, menikmati kuliner khas daerah, dan memperkuat ikatan sosial di tengah kehidupan perkotaan yang semakin modern.
Editor : Arif Ardliyanto