get app
inews
Aa Text
Read Next : Curi Tiang Rambu Dishub, Kakek 67 Tahun Ditangkap Usai Kabur ke Lamongan

Biaya Hidup dan Kesehatan Naik, Kelas Menengah Makin Cemas soal Keuangan

Jum'at, 05 Juni 2026 | 13:05 WIB
header img
Direktur Utama FWD Insurance, Jeffrey Woo saat peluncuran FWD Income Prosperity di Surabaya. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Meningkatnya biaya hidup, tingginya biaya kesehatan, serta ketidakpastian pendapatan membuat mayoritas masyarakat kelas menengah di Indonesia semakin cemas terhadap kondisi keuangan mereka. 

Sebanyak 66 persen responden mengaku khawatir terhadap stabilitas finansial saat ini, sementara hanya 34 persen yang merasa yakin dengan kondisi keuangannya.

Temuan tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan FWD Insurance bersama Ipsos terhadap lebih dari 1.000 responden kelas menengah Indonesia berusia 21–65 tahun pada Oktober 2025.

Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy Franto Manik, mengatakan mayoritas masyarakat kini lebih fokus mempertahankan stabilitas keuangan dibandingkan mengejar pertumbuhan aset atau kekayaan.

“Sebanyak 66 persen masyarakat kelas menengah di Indonesia merasa khawatir terhadap stabilitas keuangan mereka saat ini. Mereka lebih fokus bagaimana mempertahankan kondisi keuangan di tengah berbagai perubahan yang terjadi. Sementara hanya 34 persen yang merasa yakin dengan kondisi keuangan mereka saat ini maupun di masa mendatang,” ujar Rudy di Surabaya, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang memicu kekhawatiran masyarakat. Pertama, kenaikan biaya hidup yang terus membebani pengeluaran rumah tangga. “Kita tahu saat ini banyak kebutuhan yang mengalami kenaikan harga sehingga menjadi perhatian utama masyarakat,” katanya.

Faktor kedua adalah meningkatnya biaya kesehatan. Rudy menjelaskan, inflasi biaya kesehatan menjadi salah satu risiko yang berpotensi mengganggu kestabilan finansial keluarga. “Sering kali ketika kondisi keuangan sudah stabil, muncul masalah kesehatan yang membutuhkan biaya besar dan akhirnya memengaruhi kondisi finansial keluarga,” ujarnya.

Sementara faktor ketiga adalah ketidakpastian pendapatan di masa depan. “Masyarakat khawatir apakah pendapatan mereka saat ini masih bisa dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan. Ini menjadi perhatian yang cukup besar,” tambahnya.

Rudy menilai generasi milenial menjadi kelompok yang menghadapi tekanan finansial paling besar. Banyak dari mereka berada dalam posisi sandwich generation, yakni harus memenuhi kebutuhan diri sendiri, anak, sekaligus orang tua.

“Generasi milenial saat ini menghadapi tekanan yang cukup berat karena harus memenuhi berbagai kebutuhan secara bersamaan. Mereka menjadi kelompok yang paling merasakan tantangan finansial,” katanya.

Di sisi lain, generasi X dinilai memiliki kondisi keuangan yang relatif lebih stabil karena telah lebih matang dalam menyusun perencanaan keuangan jangka panjang. Sementara generasi Z mulai menunjukkan kesadaran terhadap pentingnya perlindungan finansial, meski cenderung memilih produk yang sederhana dan mudah dipahami.

“Generasi Z umumnya mulai mengenal proteksi melalui produk-produk sederhana seperti asuransi kesehatan atau asuransi jiwa dengan masa perlindungan yang lebih pendek,” ujarnya.

Menanggapi tingginya kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi finansial, FWD Insurance memperkenalkan produk asuransi jiwa dwiguna (endowment) bernama FWD Income Prosperity. Produk tersebut dirancang untuk membantu nasabah menjaga stabilitas keuangan sekaligus merencanakan masa depan melalui manfaat tunai tahunan yang terstruktur.

Direktur Utama FWD Insurance, Jeffrey Woo, mengatakan kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kini tidak hanya sebatas mitigasi risiko, tetapi juga kepastian dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

“Kami memahami bahwa di tengah berbagai perubahan yang terjadi saat ini, banyak masyarakat ingin memiliki masa depan yang lebih tenang dan terarah. Karena itu, kebutuhan akan perlindungan kini tidak hanya soal berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga menghadirkan manfaat tunai yang terstruktur serta kepastian dalam perencanaan keuangan,” ujar Jeffrey.

Menurutnya, produk tersebut menggabungkan manfaat tunai tahunan dengan perlindungan jiwa sehingga memberikan visibilitas yang lebih jelas dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Chief of Agency FWD Insurance, Ang Tiam Kit, menambahkan produk tersebut menyasar segmen kelas menengah hingga menengah atas dengan premi tahunan mulai Rp25 juta atau sekitar Rp2,2 juta per bulan.

“Produk endowment sebenarnya sudah lama ada di industri asuransi. Namun, yang membedakan adalah fitur dan manfaat yang terus dikembangkan agar lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan nasabah saat ini,” kata Ang.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut