Pameran Karya Pelajar Dorong Keberanian Berekspresi dan Berinovasi
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sebuah lukisan yang tampak sederhana, animasi digital yang bergerak di layar, hingga miniatur yang tersusun rapi ternyata menyimpan cerita panjang di balik proses pembuatannya.
Ada ide yang lahir dari rasa ingin tahu, kegagalan yang berulang kali diperbaiki, hingga keberanian seorang pelajar untuk menampilkan hasil karyanya kepada publik.
Kisah-kisah itulah yang diangkat dalam Lentarium 2026. Pameran seni tahunan Elyon Christian School yang tahun ini mengusung tema "Behind the Curtains". Selama 5–7 Juni 2026, karya para siswa tingkat Secondary dan High School dipamerkan di Ciputra World Surabaya.
Bagi para siswa, pameran ini bukan sekadar ajang memamerkan hasil karya. Lentarium menjadi ruang pembelajaran untuk menyampaikan gagasan, menerima apresiasi, sekaligus terbuka terhadap kritik sebagai bagian dari proses bertumbuh.
"Elyon Christian School ingin menunjukkan bahwa setiap karya memiliki cerita. Behind the Curtains bukan sekadar pameran, melainkan panggung yang menampilkan kreativitas, semangat, dan kerja keras para guru maupun siswa," ujar Kepala Sekolah SMA Elyon Christian School, Jimy Hartanto, Senin (8/6/2026).
Melalui mata pelajaran Art & Design serta Digital Media & Design, para siswa diajak memahami bahwa nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada hasil akhirnya. Di balik setiap lukisan, ilustrasi, video, maupun karya digital, terdapat proses eksplorasi, pemecahan masalah, dan pembelajaran yang turut membentuk karakter kreatornya.
Lentarium 2026 menghadirkan beragam karya, mulai dari lukisan, gambar, sketsa, fotografi, video, animasi, website, hingga karya tiga dimensi seperti miniatur, clay, crochet, dan digital 3D model. Keberagaman tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mengekspresikan kreativitas melalui berbagai medium yang terus berkembang mengikuti zaman.
Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah "Emotions, Sketch of Form: Adam (Cody Swanson, 2006)" karya Mykel Putranto Limanta. Melalui karya tersebut, Mykel mengeksplorasi emosi manusia lewat pendekatan sketsa figuratif yang menonjolkan detail bentuk, ekspresi, dan karakter.
Menurut Mykel, seni merupakan medium untuk menyampaikan pesan dan perasaan yang terkadang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
"Saya ingin menunjukkan bahwa emosi tidak selalu harus diungkapkan lewat kata-kata. Melalui ekspresi wajah, gestur, dan detail bentuk tubuh, seseorang bisa menyampaikan banyak perasaan. Karya ini menjadi cara saya mempelajari sekaligus menerjemahkan emosi manusia ke dalam bentuk visual," ujarnya.
Siswa kelas 11 jurusan Art & Design itu mengaku proses pengerjaan karya tersebut mengajarkannya tentang kesabaran, ketelitian, dan keberanian untuk menunjukkan hasil karyanya kepada publik.
Kehadiran karya-karya seperti milik Mykel menjadi bukti bahwa setiap karya yang dipamerkan dalam Lentarium memiliki cerita dan perjalanan masing-masing. Tidak hanya tentang teknik dan estetika, tetapi juga tentang proses pencarian jati diri para siswa sebagai individu kreatif.
Menariknya, pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga diajak memahami cerita di balik setiap karya melalui program Portforium, yakni sesi diskusi langsung bersama para siswa. Dalam forum ini, para pelajar berbagi pengalaman mengenai proses kreatif, sumber inspirasi, tantangan yang dihadapi, hingga pesan yang ingin disampaikan melalui karya mereka.
Selain itu, terdapat program Imagium, kegiatan melukis terbuka bagi masyarakat berusia 10 tahun ke atas. Program ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menciptakan karya sekaligus mempresentasikannya secara langsung di hadapan publik.
Menurut Jimy, pameran ini merupakan bentuk nyata integrasi antara pembelajaran di kelas dengan pengalaman di dunia kreatif yang sesungguhnya. Para siswa belajar bagaimana sebuah karya dikurasi, dipresentasikan, dan diapresiasi oleh masyarakat luas.
Tahun ini menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya Lentarium digelar di ruang publik berskala besar yang dapat diakses masyarakat selama 12 jam setiap hari. Langkah tersebut dilakukan untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan komunitas kreatif yang terus berkembang di Surabaya.
Ketua Acara Lentarium 2026, Marcellino Leopatria, berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi para siswa untuk semakin percaya diri dalam menunjukkan potensi dan kreativitas mereka.
"Melalui acara ini, siswa memiliki ruang untuk mengekspresikan kreativitas, belajar menghargai karya teman-teman sebayanya, serta terbuka terhadap kritik dan apresiasi dari komunitas kreatif," katanya.
Editor : Arif Ardliyanto